Kiat Menghadapi Wawancara Kerja

Saat mendengar kata “wawancara”, pasti terbayang ketegangan, kegugupan, dan kecemasan saat menjalani dan menunggu hasilnya. Percayalah, saya pun pernah menghadapi dan merasakan hal yang sama, bahkan lebih parah 😉 Sepanjang perjalanan karier saya, sudah enam wawancara saya jalani. Dari enam wawancara, semuanya membuahkan hasil sesuai harapan (baca: saya diterima bekerja). Mulai dari wawancara via telepon, tatap muka langsung, hingga melalui panggilan suara dan video Skype.

Wah, keren ya wawancara lewat Skype! Kemajuan zaman memang memudahkan kita untuk melakukan segala hal, termasuk wawancara. Meskipun keren, tetap saja deg-degan dan gugup disertai sakit perut dan keringat dingin (mungkin cuma saya yang demikian, hehehe).

Terlepas dari keren atau tidaknya, semua proses wawancara memerlukan persiapan matang. Apalagi jika klien yang mengundang kita untuk wawancara termasuk perusahaan yang cukup besar dan terkenal, pasti terasa lebih tegang dan berat.

Nah, dari pengalaman wawancara yang pernah saya jalani, saya ingin membagikan beberapa kiat yang bisa diterapkan untuk membantu mengurangi ketegangan, menjalani wawancara dengan tenang dan mulus.

  1. Cari tahu sebanyak mungkin tentang perusahaan atau klien yang akan mewawancarai Anda. Buat catatan kecil tentang itu dan bacalah sebelum wawancara sebagai persiapan.
  2. Buat daftar pertanyaan yang mungkin akan ditanyakan oleh pewawancara. Pertanyaan yang paling umum adalah “Ceritakan tentang diri Anda.”
  3. Buat daftar keterampilan yang Anda kuasai sesuai bidang pekerjaan Anda. Misalnya, jika Anda adalah penerjemah, apa saja kemampuan khusus yang Anda miliki dan terapkan dalam menerjemah. Contoh: Saya sangat suka membaca buku tentang (isi jenis buku). Hobi saya ini membantu memperluas wawasan saya tentang banyak hal dan membantu saat saya menerjemahkan tentang (isi topik).
  4. Siapkan semua hal teknis yang membantu jalannya wawancara. Jika Anda bertatap muka langsung dengan pewawancara, pastikan Anda berpakaian rapi dan bersih. (Sst, jangan lupa gosok gigi sebelum pergi, hehehe) Sedangkan jika ini adalah wawancara virtual, pastikan perangkat yang akan Anda gunakan sudah berfungsi dengan baik. Komputer atau laptop Anda sudah terisi penuh dayanya dan koneksi internet atau telepon Anda lancar, dan aplikasi yang akan digunakan sudah terpasang (Skype, Google Hangouts, atau lainnya). Jika Anda harus datang ke tempat pewawancara, pastikan Anda tidak datang terlambat, agar kesan profesional Anda tidak luntur di mata calon klien 🙂 (Jam karetnya disimpan dulu ya, kalau bisa sih seterusnya, hihihi)
  5. Tarik napas dalam-dalam dan tenangkan pikiran. Bisa dengan mendengarkan musik kesukaan atau berjalan-jalan.
  6. Saat wawancara dimulai, duduk dengan tegak dan tersenyumlah kepada pewawancara agar suasana tidak kaku. Sapa pewawancara dan perkenalkan diri dengan sopan.
  7. Jawab pertanyaan dan bicara dengan jelas dan tegas. Hal penting lainnya adalah konsentrasi supaya tidak melantur dalam menjawab pertanyaan pewawancara.
  8. Nah, yang terakhir, jangan lupa berdoa ya, supaya wawancaranya sukses dan Anda berhasil mendapatkan pekerjaan atau proyek yang Anda inginkan 😉

Apakah kalian punya kiat lain untuk menghadapi wawancara kerja?

Semoga sukses!

Pertanyaan Umum Tentang Penerjemahan dan Penjurubahasaan

T: Apakah penjurubahasaan simultan bisa dilakukan oleh satu juru bahasa saja?

J: Tidak. Kemampuan manusia untuk berkonsentrasi penuh dan menghasilkan terjemahan lisan yang akurat umumnya hanya bertahan maksimal 30 menit. Setelah itu, konsentrasi menurun, dan sebagai akibatnya, keakuratan akan berkurang. Penjurubahasaan simultan sebaiknya selalu dilakukan oleh dua orang juru bahasa. Alasan lainnya, akan ada yang menggantikan ketika kita perlu ke kamar kecil atau rehat sejenak untuk minum. Jangan sampai tenggorokan kering lalu kita terbatuk-batuk ketika mikrofon masih menyala. Kasihan dong pendengar kita, hehehe 😉 Di sinilah letak peran penting rekan kita di saat kita bekerja berdua di dalam booth. Kita bisa saling membantu ketika ada istilah atau kata yang tidak kita ketahui, atau ketika rekan kita tiba-tiba kehilangan fokus karena satu dan lain hal.

T: Saya ingin menjadi penerjemah lepas purnawaktu (full-time freelance translator). Apakah ada tips atau saran khusus untuk memulai?

J: Sebelum melepas pekerjaan tetap yang sedang kita jalani, ada baiknya kita memastikan sudah ada beberapa klien yang bisa diandalkan untuk memberi pekerjaan terjemahan secara teratur. Selain itu, pastikan kita sudah memiliki tabungan atau dana darurat untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari selama minimal enam bulan ke depan. Mengapa? Ini untuk berjaga-jaga ketika proyek penerjemahan sedang sepi dan pemasukan menurun. Kita tentunya tetap harus membayar tagihan, membeli kebutuhan bulanan, dan lain-lain, bukan? Keputusan untuk menjadi penerjemah lepas purnawaktu memerlukan perencanaan yang matang, jadi pastikan kita sudah mulai melakukan riset, mencari klien, dan menambah dana tabungan setidaknya setahun sebelum melepas pekerjaan tetap.

T: Apakah setiap penerjemah WAJIB bekerja menggunakan CAT Tool (Computer-Assisted Translation Tool)?

J: Menurut saya, tidak. CAT Tool berperan dalam memastikan konsistensi hasil terjemahan dan membantu kita dalam membuat glosarium, sehingga penggunaan istilah akan lebih konsisten. Ini juga sangat membantu ketika banyak pengulangan kalimat, frasa, dan istilah. Hasilnya, teks terjemahan akan lebih rapi. Masih banyak penerjemah yang tidak memanfaatkan CAT Tool dalam bekerja, terutama penerjemah karya fiksi seperti novel. Beberapa CAT Tool yang paling umum digunakan oleh penerjemah dan agensi penerjemahan antara lain Trados, MemoQ, dan Wordfast. Ini semua berpulang kembali ke masing-masing penerjemah dan disesuaikan dengan kebutuhan dan tentu saja, dana yang ada, mengingat harga lisensi perangkat lunak CAT Tool relatif mahal 🙂

T: Saya ingin memulai karier sebagai juru bahasa (interpreter). Apa saja tips atau persyaratan tertentu yang harus saya ketahui?

J: Pertama, pastikan kita benar-benar menguasai bahasa asing yang menjadi bahasa sumber kita (Inggris, Prancis, Spanyol atau bahasa asing lainnya) dan bahasa Indonesia yang baik dan benar, sehingga kita bisa melakukan pekerjaan dengan baik. Dengan begitu, pemberi kerja merasa puas dengan hasil kerja kita dan tidak ragu memakai jasa kita untuk proyek selanjutnya. Kedua, pastikan kita selalu mencari informasi sebanyak mungkin tentang topik acara dan memahami istilah-istilah yang umum digunakan dalam topik tersebut. Ini untuk memastikan pekerjaan kita berjalan dengan lancar dan poendengar memahami terjemahan kita dengan baik. Ketiga, bangun hubungan baik dengan pemberi kerja dan sesama juru bahasa. Ini sangat penting karena umumnya pekerjaan penjurubahasaan paling sering diperoleh dari jejaring pertemanan. Nah, yang terakhir dan tak kalah penting adalah memastikan bahwa kita memahami etika kerja di dalam booth. Jangan menimbulkan suara yang mengganggu atau melakukan hal-hal yang dapat mengganggu ketika rekan kita sedang melakukan penjurubahasaan. Bagaimana mengetahui apa saja yang boleh dan tidak boleh kita lakukan ketika sedang bekerja? Bangunlah komunikasi yang baik dengan rekan juru bahasa kita, bicarakan dan tetapkan aturan bersama sebelum kita memasuki booth untuk mulai bekerja.

T: Bagaimana cara mendapatkan klien untuk pekerjaan penerjemahan?

J: Mulailah mencari klien penerjemahan secara offline terlebih dulu. Promosi dari mulut ke mulut sangat membantu dalam hal ini, dan pasarkan jasa kita ke kalangan terdekat lebih dulu. Jika memungkinkan, datanglah langsung ke calon klien untuk menawarkan jasa kita. Meskipun mereka belum membutuhkan kita, suatu saat nanti mereka setidaknya akan mengingat kita ketika mereka memerlukan jasa penerjemah. Mungkin ada yang berpikiran bahwa cara ini kuno, dan sebagian besar dapat dilakukan melalui email. Namun, tidak ada salahnya mencoba, terutama jika lingkungan sekitar calon klien kita masih kerap menggunakan cara langsung untuk berkomunikasi, seperti telepon dan bertatap muka. Selanjutnya, kita bisa mencoba mengirimkan lamaran melalui email atau pos ke penerbit, perusahaan, atau agensi penerjemahan yang kita ketahui dan ingin kita ajak bekerja sama. Saran saya, pastikan kita menghubungi calon klien yang bergerak di bidang yang kita sukai dan kuasai. Misalnya, jika kita suka dan merasa mampu menerjemah novel misteri atau buku tentang pendidikan, sebaiknya kirimkan lamaran dan contoh terjemahan ke penerbit yang menerbitkan novel misteri atau buku-buku tentang pendidikan. Bagaimana cara mengetahui nama-nama penerbit yang dapat kita kirimi lamaran? Carilah lewat Google 🙂 Jangan malas melakukan riset dan mencari tahu menggunakan segala sarana yang kita miliki, karena ini adalah salah satu modal utama kita sebagai penerjemah untuk menghasilkan terjemahan yang baik dan akurat.

“Words travel worlds. Translators do the driving.”

— Anna Rusconi (English-Italian translator)

Juru Bahasa Kepolisian dan Pengadilan

Saat mendengar kata “polisi” atau “pengadilan”, pasti yang terbayang di benak kita adalah hal-hal yang menegangkan dan penuh istilah hukum yang terdengar asing di telinga. Jangankan menjadi juru bahasa di kantor polisi atau ruang pengadilan, memasuki kedua ruangan itu saja sudah membuat hati deg-degan dan gugup. Ini juga yang terjadi pada saya ketika beberapa waktu lalu dimintai bantuan untuk menjadi juru bahasa seorang asing berkebangsaan Inggris yang terlibat dalam satu kasus pembunuhan di Kuta, Bali pada tahun 2016 lalu.

Saat itu adalah kali pertama saya menjadi juru bahasa di kantor polisi. Pihak penyidik di Kepolisian Kota Denpasar memerlukan juru bahasa untuk mendampingi orang asing tersebut dalam proses penyidikan dan pembuatan Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Saya merasakan ketegangan yang cukup berarti ketika pertama kali memasuki ruang pemeriksaan. Namun, setelah mendapat pengarahan tentang kasus tersebut dari petugas penyidik dan pengacara, saya akhirnya mulai agak santai dan selanjutnya bisa menjalankan pekerjaan dengan baik selama kurang lebih enam hari.

Sebagai juru bahasa profesional, saya wajib mengetahui apa saja yang boleh dan tidak boleh saya lakukan ketika melakukan pekerjaan ini. Apa saja yang tidak boleh saya lakukan selaku juru bahasa saat menjadi juru bahasa untuk seseorang yang terlibat dalam kasus hukum?

  • Menambahkan atau mengurangi ucapan klien atau pihak kepolisian sesuka hati agar terdengar meyakinkan
  • Memberikan atau menambahkan opini pribadi kepada klien atau penyidik kepolisian yang dapat menghambat atau mempengaruhi jalannya pemeriksaan
  • Memberitahukan apa saja yang saya terjemahkan di dalam ruang pemeriksaan kepolisian kepada pihak luar, baik itu media masa, teman, maupun anggota keluarga

Sebagai juru bahasa, saya harus bersikap netral dan tidak memihak. Semua hal dan percakapan yang berlangsung di dalam ruang pemeriksaan kepolisian maupun selama persidangan harus dijaga kerahasiaannya. Jika tidak, nama si juru bahasa yang menjadi taruhannya karena nantinya akan dicap tidak profesional dan tidak mematuhi kode etik profesi.

Selagi membahas tentang penjurubahasaan untuk kepolisan dan pengadilan, kebetulan bulan lalu saya mengikuti pelatihan penjurubahasaan yang berfokus di bidang hukum dan diselenggarakan oleh  Himpunan Penerjemah Indonesia Komisariat Daerah (Komda) Bali. Fasilitator pelatihan ini adalah seorang juru bahasa yang sudah sangat berpengalaman membantu pihak kepolisian dan kejaksaan selama kurang lebih 20 tahun. Beliau adalah Bapak Wayan Ana.

Dalam pelatihan yang beliau pimpin, saya belajar lebih banyak tentang  tata cara bekerja sebagai juru bahasa, khususnya dalam mendampingi klien di pengadilan dan kepolisian. Beliau memberi banyak contoh nyata tentang pengalaman dan kesulitan yang beliau hadapi selama bekerja sebagai juru bahasa bidang hukum. Saya dan para peserta pelatihan juga mendapat kesempatan untuk bermain peran dan berlatih dalam suasana yang dirancang sedemikian rupa seperti di dalam ruang sidang pengadilan.

IMG_4260

Pak Wayan Ana membagikan ilmunya dengan cara yang sangat menarik dan menyelipkan banyak gurauan di sela-sela pemaparan. Ini membuat suasana pelatihan santai dan menyenangkan. Pelatihan yang berlangsung sejak pukul sembilan pagi hingga lima sore jadi terasa begitu singkat. Saya dan peserta lain mendapatkan bekal ilmu tambahan untuk memantapkan profesi sebagai juru bahasa. Pak Wayan Ana berkenan berbagi ilmu dengan kami karena beliau juga menginginkan adanya pergantian generasi juru bahasa pengadilan di Bali yang selama ini hampir sebagian besar ditangani oleh beliau. Beliau juga berpesan agar kami menimba ilmu dan pengalaman sebanyak-banyaknya untuk memupuk kepercayaan diri dan profesionalisme agar nantinya dapat menjalankan profesi ini dengan semakin baik.

Saya sangat setuju dan terkesan dengan apa yang beliau sampaikan. Bagi saya, profesi sebagai penerjemah dan juru bahasa SELALU menuntut saya untuk memperkaya wawasan dan pengetahuan. Jangan pernah beranggapan kita sudah cukup mengetahui tentang profesi kita, lalu merasa tinggi hati dan enggan belajar dan berbagi ilmu dengan sesama penerjemah dan juru bahasa. Inilah yang akan membuat kita tertinggal dan menurunkan kualitas pekerjaan kita. Caranya? Ya salah satunya dengan rajin mengikuti pelatihan, seminar, dan berjejaring dengan rekan-rekan seprofesi 🙂

“Develop a passion for learning. If you do, you will never cease to grow.”

— Anthony J. D’Angelo

5caff17f-6312-4037-aaea-b78efba5e1e3

Seminar Nasional Industri Bahasa (SNIB) 2018 and One-Day Tour in Padang, West Sumatra

As a part of my personal and professional development program, I’ve made a commitment to myself that I have to attend at least two seminars or trainings every year. Well, I’ve attended four trainings already, so…yay!  🙂 This month, I went to Padang, West Sumatra to attend the third Seminar Nasional Industri Bahasa (SNIB or National Seminar on Language Industry). It’s the farthest I’ve been for a seminar and my first time to visit Padang, so I was so excited to go. The SNIB organizing committee also provided a one-day tour for all participants and this excited me even more, hahaha, so I decided to stay for 3 days there.

IMG_3980

I flew to Padang on the 14th from Kendari because I had an interpreting gig the day before. I had to fly to Makassar first, then to Padang. When I arrived at the hotel at around 7PM in the evening, I was quite tired. However, I couldn’t call the night off since I had to finish some translation work that was due at 9PM and I was starving. To cut a long story short, I met the translation deadline aaaand had my dinner. Phew….

Anyway, let’s quit the rambling. Here’s what I did in Padang in three days.

Day 1 – September 15, 2018

The seminar was held in the ballroom of the same hotel I was staying at, the Kyriad Bumiminang Hotel. It was supposed to start at 9AM, but due to unknown reasons it didn’t start until after 9.20. To welcome all participants and speakers,  several students of Politeknik Negeri Padang (PNP or Padang State Polytechnic) performed Padang traditional welcome dance. It was followed by singing the Indonesian national anthem, Koran recital, song performance by two PNP students, and prayers.

IMG_4120
Before the seminar started
IMG_4121
Welcome dance by students of PNP
IMG_4118
Three MCs who spoke in three languages: Indonesian, Minangkabau, and English!

Next up is presentations by the four keynote speakers, Dr. Sugeng Hariyanto, Prof. Emi Emilia, Dr. Martini, and Ade Indarta, but the keynote presentations were not in that particular order. They shared their knowledge and experiences in the language industry. Dr. Sugeng Hariyanto teaches at Politeknik Negeri Malang (Polinema) and owns a translation company in Malang, East Java. He talked about interpreting and some best practices for interpreters. Before getting into his presentation, he invited a colleague, Ira Susana, to share with the audience about her interpretation experience.

IMG_4130
Dr. Sugeng Hariyanto and Ira Susana

IMG_4132

Before Dr. Sgugeng HAriyanto’s keynote presentations, Ade Indarta, the Regional Language Manager of SEA, HK, and TW for Netflix shared his experience working for several major international companies, like Facebook, SDL, and Netflix.

IMG_4128
Keynote presentation by Ade Indarta

I also met another fellow translator, the humble and kind Sutarto Muhammad, owner of Adibahasa Translation Studio.

I sat in some parallel sessions after lunch with Ira. Since we started a bit late, all presenters were given only short time each to finish their presentations and answer questions. Hm, I think the organizing committee for the next seminar should be more strict with the schedule so everyone had ample time to share and discuss their presented topics instead of being cut off midst presentation.

Overall, the seminar went well and was successful. It was the first time for PNP to host such a big event. At the end of the seminar, we were informed by the organizing committee that the Governor of West Sumatra had extended his invitation to all of us for a gala dinner at the Governor’s Office. Wow! Unfortunately, the Governor himself was abroad at that moment, so our host for that evening was the Head of Education Office of West Sumatra. Nevertheless, the dinner was terrific. The food was great and we got to enjoy another famous traditional dance of Padang during dinner. Too bad I didn’t take pictures of the meals served. I couldn’t wait for the next day to join the one-day tour 🙂

Here’s a picture from the gala dinner and a couple short videos of the dance performance. Yes, only one picture, because I was too busy eating and chatting, hahaha!

IMG_4137

Day 2 – September 16, 2018

The next day, all participants who would go on the one-day tour gathered at the hotel lobby at 7AM. We departed at around 8AM and the plan was to visit Pagaruyung Palace in Batusangkar, Bukittingi, and back to Padang. However, due to time limit, we weren’t able to go to Bukittinggi. I promised myself, next time I would definitely come again and visit Bukittinggi.

On our way to Batusangkar, we passed Pantai Padang (Padang Beach) and Air Terjun Lembah Anai (Lembah Anai Waterfall).

The journey to Batusangkar took about 3 hours by bus. Once we arrived, lunch was prepared by the organizing committee. Can you guess what was for lunch? Yep, it’s nasi Padang, hahaha. We had our lunch in one of the pavilions that surround the palace and spent about two hours walking around and inside the magnificent four-story palace, enjoying the beautiful, green scenery around it and taking pictures.

The palace was packed with tourists that day, as it was Sunday. I didn’t take pictures of myself wearing the Minangkabau traditional costume because I couldn’t stand queueing with so many people in the rather humid weather. We left for our next destination, Danau Singkarak (Lake Singkarak) in Solok. Since we didn’t have time to visit Bukittingi, the organizing committee decided to make a quick stop at Danau Singkarak to take pictures.

Our tour ended with shopping for souvenirs 🙂 We stopped by a famous souvenirs shop, Toko Oleh-oleh Hj. Aufa Hakim in Padang. I bought some keripik balado, ground  arabica coffee, keripik ikan bilis, and pisang sale cokelat. After shopping, the bus took us back to the hotel. I really enjoyed the tour, the food I ate, and the spectacular views I saw along the way.

Day 3 – September 17, 2018

It’s my last day in Padang and my flight was at 10.20 in the morning. After checking out of the hotel, I went straight to the airport to catch my flights to Makassar and Jakarta, then Bali. I had previously booked a perfect flight at 2PM that day because I wanted to explore the city a bit before noon. Since there was a misunderstanding with the organizer of my interpreting gig in Kendari, I had to cancel my tickets and booked new ones 😦 Apart from all the fuss, I really enjoyed this trip and plan to go again next time.

Have you been to Padang before? Which places did you visit and what do you think of the experience?

 

5caff17f-6312-4037-aaea-b78efba5e1e3

 

Lima Mitos dan Fakta Seputar Profesi Penerjemah & Juru Bahasa

Mitos: Kalau saya bisa berbahasa Inggris atau bahasa asing lainnya, saya pasti bisa jadi penerjemah/juru bahasa.

Fakta: Tidak semua orang yang menguasai bahasa asing mampu menjadi penerjemah/juru bahasa. Banyak faktor yang menentukan kelayakan seseorang untuk melakukan pekerjaan penerjemahan, seperti penguasaan tata bahasa Indonesia yang baik, pengetahuan luas tentang budaya negara pengguna bahasa asing yang akan diterjemahkan, dan keuletan dalam mencari informasi mengenai padanan kata. Menerjemah adalah pekerjaan yang mengasyikkan sekaligus menuntut kejelian dan kecakapan mengolah kata dan kalimat untuk mengalihkan pesan dan makna dari suatu bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia. Penerjemah tidak begitu saja menerjemah kata per kata. Jika itu yang dilakukan, maka kehadiran alat penerjemahan seperti Google Translate pasti sudah menggantikan para penerjemah di seluruh dunia 😉

Mitos: Saya tidak pernah tinggal di luar negeri, jadi saya tidak memenuhi syarat untuk menjadi penerjemah/juru bahasa.

Fakta: Salah! Meskipun tidak pernah tinggal di luar negeri, seseorang tetap bisa menjalani profesi sebagai penerjemah atau juru bahasa. Kemampuan orang untuk menguasai bahasa lain selain bahasa ibu dipengaruhi oleh banyak hal, antara lain bakat dan minat pada bahasa asing tertentu. Pernah tinggal di luar negeri adalah nilai tambah yang tentu saja sangat membantu dalam melakukan pekerjaan sebagai penerjemah/juru bahasa. Namun, jika seseorang belajar dengan tekun dan selalu membiasakan diri untuk menyimak, menulis, membaca, dan berbicara dalam bahasa asing yang diminati, kemampuan bahasa asingnya pasti terasah dengan baik. Hasilnya, ia akan terampil menggunakan keempat keterampilan berbahasa di atas dan memiliki pengetahuan yang memadai mengenai segala aspek bahasa asing tersebut.

Mitos: Saya orang Indonesia, tentu saja saya bisa berbahasa Indonesia dengan baik. Jadi, saya pasti bisa menjadi penerjemah dan menerjemah dengan baik.

Fakta: Hm, yakin kalau kita sudah mengetahui bahasa yang baik dan benar? 🙂 Apakah dalam percakapan dan kegiatan sehari-hari kita sudah memilih menggunakan bahasa ibu kita ini sepenuhnya, alih-alih bahasa Inggris agar terdengar gaya? 😉 Tanyalah diri sendiri tentang hal ini dan putuskan apakah kita sudah bisa berbahasa Indonesia dengan baik DAN benar. Jika kita mengirim pesan teks atau surel dan penerima bingung dengan maksud yang ingin kita sampaikan, berarti kita masih harus banyak belajar menggunakan bahasa ibu kita, bahkan dalam hal paling sederhana seperti penggunaan tanda baca titik dan koma 😉

Mitos: Profesi penerjemah dan juru bahasa di masa depan akan hilang dan digantikan oleh mesin dan robot yang dilengkapi kecerdasan buatan (artificial intelligence).

Fakta: Salah! Bahasa adalah hal yang kompleks dan kemampuan manusia menggunakan bahasa untuk berkomunikasi sangat dipengaruhi oleh banyak hal. Dalam menyampaikan pesan kepada orang lain, otak kita harus memilah informasi yang akan disampaikan berdasarkan banyak hal, antara lain lawan bicara dan situasi. Apakah orang yang kita ajak bicara lebih tua atau muda daripada kita? Apakah kita berada dalam acara resmi atau sekadar bertegur sapa dengan kolega di kedai kopi? Apakah hal yang akan kita terjemahkan dan tulis akan dibaca oleh kalangan muda, akademia, atau pekerja profesional lainnya? Semua nuansa bahasa itu tidak akan dapat 100% dikuasai oleh mesin. Jadi, jangan pernah berpikir bahwa profesi ini akan tergerus zaman. Otak manusia sebagai mesin tertua dalam peradaban tidak akan pernah bisa tergantikan oleh apa pun.

Mitos: Penerjemah dan juru bahasa tidak bisa hidup dengan layak karena penghasilannya tidak menentu, bahkan kadang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Fakta: Sekali lagi salah! Saya menggeluti profesi sebagai penerjemah selama hampir delapan tahun dan menjadi juru bahasa selama kurang lebih lima tahun. Selama itu dan hingga detik ini saya bersyukur karena selalu mendapat pekerjaan dan proyek penerjemahan yang dapat memenuhi kebutuhan hidup saya. Beberapa rekan penerjemah dan juru bahasa yang saya tahu dan kenal pun sudah sangat sukses di bidangnya dan mampu menggantungkan hidup sepenuhnya pada profesi ini. Tentu saja, ada perbedaan dalam hal penghasilan bagi penerjemah dan juru bahasa lepas (freelance translator dan interpreter) dan internal. Kemampuan kita berkomunikasi dan menjaga hubungan baik dengan klien dan rekan sejawat juga menentukan keberhasilan kita. Semakin bagus hubungan dengan klien, semakin besar kemungkinan kita akan tetap mendapat pekerjaan dari mereka, atau bahkan direkomendasikan ke pemberi kerja lain. Jejaring yang kita bangun dengan sesama rekan penerjemah pun dapat membantu kita menambah peluang untuk mengembangkan diri dan memperoleh pekerjaan. Namun, kita tentu saja tetap berusaha sendiri dan tidak selalu mengandalkan orang lain untuk memperoleh proyek 🙂 Kesimpulannya, profesi ini sama dengan pekerjaan profesional lainnya dan bila dijalani dengan serius bahkan dapat menghasilkan pendapatan dengan jumlah yang sangat mencengangkan, hehehe.

Jadi, adakah yang tertarik untuk menjadi penerjemah atau juru bahasa setelah membaca kelima fakta yang saya tuliskan di atas?

“If you do what you love, you’ll never work a day in your life.

— Mark Antony

5caff17f-6312-4037-aaea-b78efba5e1e3

Bersih-bersih Sampah Digital

Dulu, saya suka membeli barang yang saya pikir menarik, tapi selanjutnya tidak pernah digunakan lagi dan hanya teronggok di sudut lemari.

Dulu, saya gemar mengunduh aplikasi di ponsel dan komputer hanya karena menurut saya aplikasi tersebut keren, tapi ternyata hanya memenuhi memori gawai dan komputer … jadi mubazir dan tidak pernah digunakan lagi.

Sekarang, saya belajar dari pengalaman itu dan mulai berpikir masak-masak ketika akan membeli sesuatu, entah itu barang dalam bentuk fisik maupun aplikasi digital. Mengapa? Percayalah, hidup dengan dikelilingi tumpukan barang tak terpakai dan ponsel, tablet atau komputer yang dipenuhi beragam aplikasi yang mubazir hanya akan membuat kepala pusing. Itulah sebabnya saya memutuskan untuk mulai bersih-bersih. Tidak hanya membereskan barang yang berserakan di sekeliling saya, isi ponsel, tablet, dan komputer pun saya rapikan dan kurangi jumlahnya. Setelah semua rapi, pikiran jadi lebih tenang, bekerja bisa lebih produktif, dan hidup terasa lebih tertata, hehehe 🙂

Apa saja yang saya lakukan untuk mengurangi tumpukan sampah digital?

  • Setiap hari, saya usahakan membaca semua surel (email) lalu membalas atau memasukkannya ke dalam folder yang sesuai. Jika email itu nantinya tidak diperlukan lagi atau hanya perlu dibaca, setelah dibaca biasanya saya hapus. Dengan begitu, setiap hari kotak masuk surel saya tidak dipenuhi puluhan surel yang tidak perlu. Saya juga menggunakan sistem pelabelan dan filter email, jadi email otomatis masuk ke folder yang saya inginkan. Ini sangat membantu saya memilah mana surel yang penting dan harus segera dibalas, dan mengurangi tumpukan surel di kotak masuk.
  • Setiap minggu, saya merapikan desktop komputer. Folder yang sebelumnya terlihat semrawut akan saya rapikan, dan yang sudah jarang terpakai saya masukkan ke folder sesuai nama dan tanggalnya, atau saya hapus dari desktop. Saya membuat sistem penyimpanan berdasarkan dua kategori utama, yaitu pribadi dan pekerjaan. Setiap folder utama memuat dokumen di dalam subkategori sesuai kebutuhan saya.
  • Setiap bulan, saya memeriksa isi komputer, ponsel, dan tablet. Jika ada aplikasi yang tidak pernah saya buka dalam satu bulan terakhir, maka aplikasi itu akan saya hapus. Saya juga biasanya menghapus majalah atau buku digital yang sudah selesai dibaca. Selanjutnya, saya akan membuat cadangan semua data yang saya miliki di komputer, ponsel, dan tablet. Cadangan tersebut sebagian besar saya simpan di cloud.
  • Setiap tahun, saya menghapus akun surel yang sudah jarang digunakan. Percaya gak, saya memiliki dua akun Yahoo! dan keduanya sudah sangat jarang saya gunakan selama tiga tahun belakangan ini. Keduanya adalah peninggalan dari masa kejayaan Yahoo! Messenger, hahaha! Akhirnya saya putuskan untuk menghapus keduanya. Saya juga memeriksa apakah saya berlangganan newsletter dari situs web online tertentu yang sudah tidak menarik atau relevan lagi. Jika ada, maka itu pun saya hapus.

Bersih-bersih selesai, hati pun tenang. Desktop lebih rapi, komputer, ponsel dan tablet pun lebih lebih “ringan” dan segar tampilannya. Nah, ada yang mau ikut bersih-bersih? 😉

“The best way to find out what we really need is to let go of what we don’t.”

— Marie Kondo

 

5caff17f-6312-4037-aaea-b78efba5e1e3

5 Buku Favorit Saya (My 5 Favorite Books)

Kali ini, saya ingin berbagi tentang lima buku yang sudah saya baca dan menjadi favorit untuk direkomendasikan. Kelima buku ini tidak hanya tentang penerjemahan, ya 🙂 Urutannya pun tidak mencerminkan pilihan saya, karena saya pikir kelima buku ini sama bagusnya.

1.   How To Succeed As A Freelance Translator oleh Corinne McKay

Image result for how to succeed as a freelance translator

Buku ini memuat begitu banyak informasi tentang memulai karier sebagai penerjemah lepas. Mulai dari apa yang seharusnya kita lakukan jika ingin memulai karier sebagai penerjemah atau juru bahasa, alat bantu dalam menerjemah (CAT Tools atau Computer Assisted Translation Tools), hingga mitos dan fakta mengenai profesi ini. Buku ini wajib dibaca oleh mereka yang tertarik menggeluti dunia penerjemahan atau sekadar menambah pengetahuan mengenai profesi penerjemah dan juru bahasa.

 

 

2. Xenoglosofilia oleh Ivan Lanin

IMG_9294

Buku ini adalah kumpulan tulisan Ivan Lanin, seorang pegiat bahasa Indonesia yang pernah memperoleh penghargaan Pembina Bahasa Indonesia 2016 dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa sebagai Peneroka Bahasa Indonesia Daring. Dalam bukunya, Ivan memuat pertanyaan paling umum hingga paling khusus mengenai bahasa Indonesia. Semua itu diambil sebagian besar dari blog dan cuitan beliau di Twitter. Misalnya, apa beda “lajur” dan “jalur”? Lalu, mana penulisan yang benar: “praktek” atau “praktik”? Pokoknya, kalau ingin mengetahui lebih banyak tentang bahasa Indonesia (yang ternyata tidak semudah yang kita selalu bayangkan!) yang baik dan benar, buku inilah jawabannya. Ternyata, ada banyak juga kata-kata dalam bahasa Inggris yang sebenarnya memiliki padanan yang tak kalah bagus dalam bahasa Indonesia. Jadi, kenapa harus nginggris? 😀

Sayang buku ini belum ada versi digitalnya, jadi saya masih membeli versi cetak. Mengapa saya lebih suka versi digital atau ebook? Karena sudah tidak punya ruang lagi untuk menyimpan buku versi cetak, huhuhu, dan membeli buku digital sangat memudahkan hidup saya. Selain harganya lebih murah, saya jadi tidak perlu menenteng buku cetak yang terkadang lumayan berat jika disimpan di dalam tas.

3. Goodbye, Things oleh Fumio Sasaki

Image result for goodbye, things

Saya membeli buku ini karena tertarik setelah membaca ulasannya yang menarik. Sebelumnya, saya sudah membaca buku Marie Kondo yang berjudul The Life-Changing Magic of Tidying Up. Menurut saya, isinya mirip karena membahas tentang gaya hidup yang rapi dan minimalis. Bedanya, Fumio Sasaki lebih banyak menceritakan pengalaman pribadinya sebelum dan setelah menjalani gaya hidup minimalis. Benar-benar mencengangkan perubahan yang ia lakukan, mulai dari seseorang yang suka menimbun barang (hoarder) demi gengsi hingga menjadi penganut minimalisme yang hanya memiliki sedikit barang yang memang sangat penting dan diperlukan dalam hidup. Saya sangat terinspirasi oleh buku ini, dan memang terbukti kalau hidup dengan lebih sedikit barang itu sangat memudahkan kita, dan tentu saja, menghemat ruang dan megurangi kesumpekan, hehehe. Satu kutipan yang saya suka dari buku ini adalah:

“Why do we own so many things when we don’t need them? What is their purpose? I think the answer is quite clear: We’re desperate to convey our own worth, our own value to others. We use objects to tell people just how valuable we are.” 

4. The Subtle Art of Not Giving A F*ck oleh Mark Manson

Image result for the subtle art of not giving a fBuku favorit saya selanjutnya adalah The Subtle Art of Not Giving A F*ck yang ditulis oleh Mark Manson. Hm, setelah membaca buku ini saya jadi merasa lebih percaya diri. Hahaha! Mengapa? Ya, karena Mark Manson menceritakan bagaimana ia memilih apa yang penting dalam hidupnya tanpa memedulikan anggapan dan perkataan orang lain. Seperti “suka-suka gue” tapi dengan cara yang bertanggung jawab dan masuk akal. Benar juga apa yang ia paparkan, karena semakin kita peduli akan apa kata orang atas tindakan dan pilihan hidup kita, maka kita akan semakin tenggelam dalam ketidakpuasan dan rasa tidak bahagia. Hidup ada suka dan dukanya, dan itulah makna hidup sesungguhnya 🙂 Jadi, ketika kita merasa sedih atau mengalami peristiwa tak mengenakkan, ya anggaplah itu bagian dari hidup alih-alih akhirnya. Hidup yang kita jalani seharusnya berdasarkan pada standar dan keinginan kita, bukan standar dan keinginan orang lain.

“When people measure themselves not by their behavior, but by the status symbols they’re able to collect, then not only are they shallow, but they’re probably a**holes as well.”

5. The White Tiger oleh Aravind Adiga

Image result for the white tiger

Ini adalah buku terakhir yang menurut saya bagus dan wajib dibaca. Dan, saya baru menyadari kalau ini satu-satunya buku fiksi dalam daftar saya kali ini. Karakter utama buku ini bernama Balram. Ya, benar. Latar belakang cerita ini adalah India dengan beragam keunikan budaya dan kehidupan sosialnya: kasta, kemiskinan, kesetiaan, bahkan korupsi dan agama. Intinya, buku ini mengisahkan perjalanan hidup Balram, si tokoh utama yang berasal dari kasta rendah dan bekerja sebagai sopir. Ia akhirnya mencapai kesuksesan dalam hidupnya, dan berhasil mengubah takdirnya yang menurut pandangan kasta dan keluarganya akan selamanya menjadi sopir atau pelayan di kedai teh. Nah, perjalanan hidupnya yang berliku inilah yang dipenuhi banyak kelucuan, tragedi, dan kesedihan yang muncul dari keluguan Balram. Buku ini meraih penghargaan Man Booker Prize pada tahun 2008, bersamaan dengan penerbitan pertamanya.

Itulah kelima buku yang sudah saya baca dan menjadi favorit. Ada banyak lagi buku lainnya, mungkin kali lain akan saya bagikan lagi di sini.

“Great books help you understand, and they help you feel understood.”

— John Green

 

af47a018-f81d-4818-aa24-380eb7b21ffe

 

Mengembangkan Keterampilan Sebagai Penerjemah & Juru Bahasa

Apa pun profesi kita, entah itu penerjemah, guru, pengusaha, atau akuntan, memperkaya wawasan dan mengasah keterampilan wajib dilakukan secara berkesinambungan. Setuju, kan? Caranya juga beragam, sesuai dengan keinginan kita. Sebagian orang memilih belajar sendiri, sedangkan sebagian lainnya lebih suka mengikuti kelas atau kursus tertentu. Tentu saja ini bisa disesuaikan dengan keinginan dan waktu yang tersedia.

Bagi saya, belajar sendiri atau secara formal sama asyiknya. Ketika ada waktu luang, saya suka membaca buku atau artikel dalam bahasa Inggris dan Indonesia yang menurut saya bermanfaat untuk pengembangan keterampilan dan menambah wawasan saya sebagai penerjemah. Selain itu, saya juga suka menonton film berbahasa Inggris dan ini sekaligus merupakan hobi saya :). Satu lagi, saya suka menyimak siniar (podcast) berbahasa Inggris maupun Indonesia. Ketiga hal itu bisa saya lakukan kapan saja dan di mana saja. Belakangan ini, saya juga memberanikan diri untuk menulis di blog. Ini merupakan salah satu cara saya untuk mengasah kemampuan menulis, sekalian berbagi ilmu yang saya miliki. Saya tidak mengatakan bahwa saya memiliki segudang ilmu ya, hehehe. Setidaknya, saya harap ini akan berguna bagi rekan-rekan lain yang seprofesi atau baru mulai bekerja sebagai penerjemah dan juru bahasa 🙂 Sedangkan untuk memperkaya pengetahuan secara formal, saya kerap mengikuti pelatihan mengenai penerjemahan dan penjurubahasaan yang diadakan oleh organisasi profesi saya atau lembaga lainnya.

books stack old antique
Photo by Pixabay on Pexels.com

Sebagai penerjemah, membaca itu merupakan hal wajib. Pekerjaan penerjemah adalah menyampaikan gagasan dan pesan dari suatu bahasa asing ke bahasa ibu kita, dalam hal ini bahasa Indonesia. Untuk itu, diperlukan kemampuan membaca dan menulis yang baik dalam bahasa sasaran. Membaca adalah cara yang baik untuk belajar memahami pikiran dan pendapat dalam bentuk tertulis, serta memperkaya kosakata. Saya menyukai buku tentang pengembangan diri, misteri, kisah detektif, petualangan, gaya hidup, dan fiksi ilmiah. Wah, membahas tentang buku tidak akan ada habisnya 🙂 Saya akan mencoba menulis tentang buku yang saya sukai di posting saya berikutnya.

Membaca juga memperluas wawasan saya mengenai segala hal yang sedang terjadi, baik di sekitar saya ataupun di dunia. Hanya karena saya penerjemah yang bekerja dari rumah, tidak berarti saya harus menjadi katak dalam tempurung dong, hehehe. Salah satu majalah berbahasa Indonesia yang rutin saya baca adalah Intisari. Majalah ini sudah mulai saya baca sejak zaman SD lho, hahaha! Saya juga membaca tulisan dan artikel yang diterbitkan oleh penerjemah lain, baik dari Indonesia maupun negara lain. Dengan begitu, saya memperoleh banyak tambahan ilmu dan tips yang berguna untuk profesi saya. Ada beberapa situs web milik penerjemah lain yang rutin saya baca, seperti blog Desak N Pusparini, Luh Windiari, dan Corinne McKay. Selain itu, ada beberapa situs berita daring (online) berbahasa Inggris dan Indonesia yang saya baca setiap hari.

Film adalah sarana kedua saya untuk mengasah keterampilan, terutama sebagai juru bahasa. Saya tidak pernah tinggal di negara berbahasa Inggris, jadi cara saya mengasah kemampuan menyimak penuturan dalam bahasa ini adalah menonton film. Budaya dan kebiasaan masyarakat negara tersebut juga bisa saya pelajari dan lihat di film. Hal ini sangat membantu saat saya menerjemahkan atau melakukan penjurubahasaan. Pelafalan dan penekanan kata dalam bahasa Inggris juga sangat pas untuk dipelajari melalui dialog dalam film.

Selain film, siniar adalah sumber pembelajaran saya yang lain. Sama halnya dengan film, saya banyak memperoleh manfaat dengan menyimak siniar. Pelafalan, intonasi, idiom, istilah-istilah baru, dan pengetahuan tentang asal-usul kata dalam bahasa Inggris kerap saya peroleh dan dengar pertama kali dari siniar yang saya ikuti. Ada banyak siniar dalam bahasa Inggris dan Indonesia yang tersedia, saya biasanya mencari informasinya di mesin pencari di internet. Salah satu siniar kesukaan saya adalah Grammar Girl.

app earbuds earphones google play music
Photo by Pixabay on Pexels.com

Cara belajar selanjutnya adalah mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh organisasi profesi atau lembaga lain. Saya sudah beberapa kali mengikuti pelatihan penerjemahan dan penjurubahasaan. Satu hal yang luar biasa adalah selalu ada saja hal baru yang saya dapatkan dari setiap pelatihan. Minggu lalu saya mengikuti pelatihan penjurubahasaan oleh AIIC dan pelatihnya adalah Matthew Perret, juru bahasa senior yang menguasai empat bahasa: Inggris, Prancis, Spanyol, dan Italia. Beliau membagikan banyak ilmu dan kiat kepada para peserta yang merupakan juru bahasa konsekutif dan simultan. Selengkapnya mengenai pelatihan ini akan saya ceritakan di posting berikutnya, ya 🙂

Oh ya, selagi membahas tentang pelatihan, saya ingin berbagi informasi tentang pelatihan penjurubahasaan yang akan diadakan oleh organisasi profesi tempat saya bernaung, yaitu HPI Komisariat Daerah Bali. Pelatihan ini akan diadakan pada hari Minggu, 26 Agustus 2018. Pelatihnya adalah Ibu Inanti Pinintakasih Diran. Beliau adalah juru bahasa dengan segudang pengalaman dan sudah malang-melintang di dunia penjurubahasaan sejak tahun 1998. Siapa tahu ada rekan seprofesi yang bertempat tinggal di sekitar Denpasar yang tertarik mengikuti pelatihan ini. Keterangan selengkapnya tentang pelatihan ini dapat dilihat di poster di bawah ini.

Poster_Pelatihan Inanti_26 Agt 2018

Nah, itulah beberapa hal yang saya lakukan untuk memperkaya wawasan dan mengasah keterampilan saya sebagai penerjemah dan juru bahasa. Semoga berguna, ya.

5caff17f-6312-4037-aaea-b78efba5e1e3