Kiat Menghadapi Wawancara Kerja

Saat mendengar kata “wawancara”, pasti terbayang ketegangan, kegugupan, dan kecemasan saat menjalani dan menunggu hasilnya. Percayalah, saya pun pernah menghadapi dan merasakan hal yang sama, bahkan lebih parah 😉 Sepanjang perjalanan karier saya, sudah enam wawancara saya jalani. Dari enam wawancara, semuanya membuahkan hasil sesuai harapan (baca: saya diterima bekerja). Mulai dari wawancara via telepon, tatap muka langsung, hingga melalui panggilan suara dan video Skype.

Wah, keren ya wawancara lewat Skype! Kemajuan zaman memang memudahkan kita untuk melakukan segala hal, termasuk wawancara. Meskipun keren, tetap saja deg-degan dan gugup disertai sakit perut dan keringat dingin (mungkin cuma saya yang demikian, hehehe).

Terlepas dari keren atau tidaknya, semua proses wawancara memerlukan persiapan matang. Apalagi jika klien yang mengundang kita untuk wawancara termasuk perusahaan yang cukup besar dan terkenal, pasti terasa lebih tegang dan berat.

Nah, dari pengalaman wawancara yang pernah saya jalani, saya ingin membagikan beberapa kiat yang bisa diterapkan untuk membantu mengurangi ketegangan, menjalani wawancara dengan tenang dan mulus.

  1. Cari tahu sebanyak mungkin tentang perusahaan atau klien yang akan mewawancarai Anda. Buat catatan kecil tentang itu dan bacalah sebelum wawancara sebagai persiapan.
  2. Buat daftar pertanyaan yang mungkin akan ditanyakan oleh pewawancara. Pertanyaan yang paling umum adalah “Ceritakan tentang diri Anda.”
  3. Buat daftar keterampilan yang Anda kuasai sesuai bidang pekerjaan Anda. Misalnya, jika Anda adalah penerjemah, apa saja kemampuan khusus yang Anda miliki dan terapkan dalam menerjemah. Contoh: Saya sangat suka membaca buku tentang (isi jenis buku). Hobi saya ini membantu memperluas wawasan saya tentang banyak hal dan membantu saat saya menerjemahkan tentang (isi topik).
  4. Siapkan semua hal teknis yang membantu jalannya wawancara. Jika Anda bertatap muka langsung dengan pewawancara, pastikan Anda berpakaian rapi dan bersih. (Sst, jangan lupa gosok gigi sebelum pergi, hehehe) Sedangkan jika ini adalah wawancara virtual, pastikan perangkat yang akan Anda gunakan sudah berfungsi dengan baik. Komputer atau laptop Anda sudah terisi penuh dayanya dan koneksi internet atau telepon Anda lancar, dan aplikasi yang akan digunakan sudah terpasang (Skype, Google Hangouts, atau lainnya). Jika Anda harus datang ke tempat pewawancara, pastikan Anda tidak datang terlambat, agar kesan profesional Anda tidak luntur di mata calon klien 🙂 (Jam karetnya disimpan dulu ya, kalau bisa sih seterusnya, hihihi)
  5. Tarik napas dalam-dalam dan tenangkan pikiran. Bisa dengan mendengarkan musik kesukaan atau berjalan-jalan.
  6. Saat wawancara dimulai, duduk dengan tegak dan tersenyumlah kepada pewawancara agar suasana tidak kaku. Sapa pewawancara dan perkenalkan diri dengan sopan.
  7. Jawab pertanyaan dan bicara dengan jelas dan tegas. Hal penting lainnya adalah konsentrasi supaya tidak melantur dalam menjawab pertanyaan pewawancara.
  8. Nah, yang terakhir, jangan lupa berdoa ya, supaya wawancaranya sukses dan Anda berhasil mendapatkan pekerjaan atau proyek yang Anda inginkan 😉

Apakah kalian punya kiat lain untuk menghadapi wawancara kerja?

Semoga sukses!

Tips: Mengatur Waktu dan Bekerja Secara Efektif

Sebagai penerjemah lepas purnawaktu, saya bisa bekerja dari mana saja dan kapan pun sesuai keperluan. Saya tidak terikat oleh jam kerja resmi mulai pukul 9 pagi hingga 5 sore seperti pekerja kantoran, alias bebas merdeka. Mau bekerja dari kamar tidur, meja dapur, atau sofa ruang tamu juga tidak masalah. Terdengar menyenangkan ya? Namun, kenyataannya tidak seindah itu. Ada saja hal yang dapat mengganggu kenyamanan dan kelancaran kerja.

Coba saja bayangkan hal ini: saya sedang fokus mengerjakan terjemahan di laptop ketika ibu saya menghampiri dan memulai obrolan, hahaha. Tentu saja beliau tidak menyadari kalau saya sedang bekerja. Beliau hanya tahu kalau saya sedang duduk di depan laptop dan berpikir anaknya sedang asyik menelusuri internet untuk berbelanja di toko online atau membaca situs gosip. Ya, memang sih, saya terkadang melakukan itu saat sedang istirahat 🙂 Apa yang terjadi kemudian? Saya kehilangan fokus dan alur berpikir, lalu harus memulai semua yang sedang saya kerjakan dari awal.

Itu hanya satu contoh situasi yang kerap saya temui. Terkadang rasa bosan juga melanda, atau waktu yang seharusnya digunakan untuk bekerja malah tersita untuk hal lain. Contohnya? Janji bertemu kolega tapi yang bersangkutan datang terlambat. Atau bahkan merasa sakit di punggung  atau jemari karena terlalu lama duduk dan mengetik di komputer? Nah, untuk mengatasinya, saya melakukan beberapa hal berikut.

1. Membuat jadwal

Bekerja dari rumah sudah merupakan tantangan tersendiri. Bisa dibayangkan bagaimana kacaunya kalau tidak ada jadwal yang jelas untuk menentukan kapan kita harus bekerja dan bersantai atau melakukan pekerjaan rumah. Biasanya saya membuat jadwal untuk seminggu ke depan. Jadi, saya biasanya menuliskan semua rencana dan tenggat pekerjaan yang harus saya penuhi di agenda. Setelah urusan pekerjaan, selanjutnya saya menuliskan rencana pribadi seperti janji temu dan jadwal bersih-bersih. Misalnya, Senin sampai Rabu adalah waktunya menyelesaikan terjemahan A dari klien X. Kamis dan Jumat saya alokasikan untuk menyelesaikan pekerjaan administrasi seperti mengirim invoice ke klien, memperbarui situs web, dan membayar tagihan-tagihan. Kemudian, Sabtu dan Minggu adalah waktunya beres-beres rumah dan melakukan kegiatan pribadi, entah itu mencuci, belanja, membersihkan kamar, atau sekadar menjalani hobi. Dengan begitu, hari-hari saya lebih tertata, waktu yang saya gunakan menjadi lebih efektif, dan semua tugas dapat saya selesaikan.

person holding white stylus
Photo by Jess Watters on Pexels.com

2. Mengikuti jadwal yang sudah dibuat

Setelah susah-payah menyusun jadwal, yang saya lakukan selanjutnya tentu saja menaatinya. Saya akan mengerjakan hal-hal yang sudah direncanakan sesuai jadwal. Satu-satunya pengecualian adalah ketika jatuh sakit atau ada acara keluarga dadakan, ya terpaksa deh tidak bisa mengikuti jadwal. Saya juga tidak lupa memberitahukan jadwal saya kepada anggota keluarga di rumah, jadi mereka tahu kapan saya sedang bekerja atau istirahat dan bisa “diganggu” 😀

time-calendar-saturday-weekend-60032.jpeg
Photo by Pixabay on Pexels.com

3. Meluangkan waktu untuk bersantai atau melakukan hobi

Ini penting untuk menjaga kewarasan saya, hehehe. Siapa yang betah bekerja terus-menerus tanpa ada selingan? Pasti tidak ada. Saya biasanya menyelipkan waktu untuk hobi dan bersantai ini di malam harı atau akhir pekan. Hobi saya adalah membaca, mendengarkan musik, dan menonton film. Membaca kadang saya lakukan di sela-sela istirahat siang atau malam hari. Saya juga berlangganan salah satu layanan streaming film, jadi bisa lebih hemat dengan menonton dari rumah 🙂 Sedangkan hobi mendengarkan musik saya lakukan kapan saja, termasuk saat sedang bekerja. 

selective focus photo of woman reading book
Photo by Min An on Pexels.com

4. Lebih banyak bergerak

Saya sering lupa diri saat bekerja. Keinginan untuk istirahat baru muncul saat punggung atau jemari mulai terasa pegal. Ini tentu tidak bagus untuk kesehatan. Nah, untuk mengatasinya, saya mulai membiasakan untuk beristirahat setiap satu jam saat bekerja untuk berdiri, berjalan sebentar dan melakukan peregangan selama kurang lebih 10-15 menit. Selain bagus untuk menjaga konsentrasi, waktu jeda ini juga baik untuk mengistirahatkan mata saya yang biasanya menghadapi layar komputer sepanjang hari.

5. Mengganti suasana kerja

Pernah merasa bosan bekerja di ruang kerja? Pasti dong. Biasanya saya akan memboyong laptop ke tempat lain selain ruang kerja. Saya bisa saja pindah ke ruang tamu, bahkan ke meja makan di dapur, hehehe. Sayangnya saya bukan tipe orang yang bisa fokus bekerja di keramaian, jadi saya sangat jarang bekerja di kedai kopi atau kafe seperti yang bisa dilakukan oleh orang lain, kecuali terpaksa dan mendesak, misalnya saat listrik mati dan saya perlu koneksi internet dan mengisi daya laptop. Nah, saat itulah kedai kopi dan kafe tempat nongkrong menjadi pilihan.

adult agreement beard beverage
Photo by rawpixel.com on Pexels.com

Bagaimana dengan teman-teman? Adakah kiat dan tips lain dalam bekerja yang rutin kalian lakukan?

af47a018-f81d-4818-aa24-380eb7b21ffe

Payoneer: Alternatif Baru Menerima Pembayaran Tanpa Biaya

Kali ini saya ingin berbagi informasi tentang beberapa sarana penerimaan dana yang sering digunakan penerjemah atau pekerja lepas lain. Selama perjalanan karier (ehem) saya sebagai penerjemah, saya sudah mengenal dan menggunakan beberapa sarana untuk menerima pembayaran dari klien yang menggunakan jasa saya. Sarana tersebut adalah transfer bank (domestik dan internasional), PayPal, Skrill, Western Union, dan yang terbaru, Payoneer.

Penafian: informasi yang saya tulis ini berdasarkan pengalaman pribadi saja.

Sarana yang paling sering saya gunakan belakangan ini adalah PayPal dan transfer bank. Mengapa saya lebih sering menggunakan keduanya? Transfer bank bisa digunakan untuk menampung pembayaran dari klien dalam negeri (rekening dalam mata uang rupiah) dan luar negeri (rekening dalam mata uang asing) seperti dolar AS), dan jelas sangat mudah dan praktis. Sedangkan PayPal adalah pilihan utama sebagian besar klien saya untuk mengirim pembayaran (baca: terpaksa menggunakan PP, hihihi).

Sekitar lima hingga enam tahun yang lalu, saya masih menerima beberapa pembayaran melalui Skrill (sebelumnya bernama Moneybookers), bahkan Western Union atau WU (satu kali). Kala itu, saya memilih WU karena klien berasal dari luar Indonesia dan saya belum memiliki rekening bank dalam mata uang yang digunakan klien atau akun PayPal.

Sebelum saya membahas Payoneer, tidak ada salahnya kalau secara umum kita lihat apa saja kekurangan dan kelebihan tiap jenis alat penerimaan pembayaran di atas.

1.Transfer bank. Kita semua pasti sudah tahu kalau transfer bank mudah dan praktis, apalagi jika menggunakan rekening di bank yang sama dengan yang digunakan klien. Dana bisa kita terima dalam hitungan jam, menit, bahkan detik. Itu untuk bank dalam negeri. Untuk bank di luar Indonesia, proses pengiriman hingga dana berhasil masuk ke rekening bank kita umumnya memakan waktu hingga sepuluh hari kerja. Menurut saya, itu kekurangannya. Bahkan, mungkin dana kita akan dipotong biaya pengiriman jika beda bank atau mata uang.

2.Western Union (WU). Penjelasan mengenai cara mengirim dan menerima dana melalui WU bisa dilihat di sini. Kelebihannya adalah dana bisa langsung diterima dan diambil di beberapa bank tertentu selain agen atau kantor resmi WU. Kekurangannya menurut saya adalah harus mencairkan dana dalam bentuk tunai dan harus mendatangi bank atau agen, lalu ada potongan dalam jumlah tertentu. Jujur saja saya lupa besaran potongannya karena saya menerima pembayaran melalui WU sekitar hampir delapan tahun lalu.

3.PayPal (PP). Seingat saya, sudah lebih dari lima tahun saya menggunakan PP untuk menerima pembayaran dari klien. Kelebihan PP adalah dana yang diterima bisa ditransfer ke rekening bank pilihan yang kita gunakan dan dana yang dikirim ke akun PP bisa seketika kita terima. Proses pemindahan ke rekening bank kita biasanya memakan waktu 3-5 hari kerja. Kita juga bisa menggunakan akun PP untuk berbelanja di toko online internasional. Ini menyenangkan bagi yang hobi belanja, hehehe. Nah, kekurangannya yang menurut saya sangat merugikan kita sebagai penerima dana adalah potongan sebesar 5% dari total jumlah yang kita terima 😦 Jika kita menerima pembayaran dalam mata uang dolar AS, potongan ini cukup besar jika dikonversikan ke dalam rupiah. Apalagi kalau kita menerima pembayaran dalam jumlah kecil, misalnya kurang dari AS$100.

4.Skrill (sebelumnya bernama Moneybookers). Karena saya hanya pernah sekali menerima pembayaran melalui Skrill, saya pikir kelebihannya sama dengan PP, yaitu dana yang bisa seketika kita terima. Sedangkan kekurangannya saat itu adalah proses pengesahan saat pembuatan akun melalui surat. Namun, sistem ini sudah berubah dan proses pembuatan akun Skrill kini jauh lebih mudah.

5.Payoneer. Nah, ini metode pembayaran dari klien yang baru saya coba dan gunakan sebanyak tiga kali. Kelebihan yang paling menyenangkan (menurut saya, hahaha!) adalah tidak ada potongan untuk menerima pembayaran. Selain itu, pembayaran diproses untuk langsung masuk ke rekening bank yang kita pilih ketika membuka akun Payoneer. Jadi, jumlah dana yang kita terima utuh, tanpa potongan sama sekali dan sesuai dengan kurs dalam rupiah di hari itu. Ya, semudah dan semenyenangkan itu. Kita akan menerima posel (email) ketika klien melakukan pembayaran dan dana sudah ditransfer ke rekening kita. Prosesnya kurang lebih 3-4 hari kerja, tapi ketika itu saya sudah menerima dana dalam waktu kurang dari dua hari kerja saja 🙂 Menyenangkan, bukan? Saya masih belum menemukan kekurangan dalam sistem pembayaran melalui Payoneer ini. Jika nanti ada (saya harap tidak akan ada), maka tulisan ini akan saya perbarui.

Baiklah, sekian dulu informasi tentang Payoneer dan beberapa sistem pembayaran yang dapat kita gunakan untuk menerima dana dari klien, baik dari dalam maupun luar negeri. Kalau ada yang sudah pernah menggunakan salah satunya, atau bahkan semuanya, boleh berbagi juga dan berkomentar sebagai tambahan informasi 😉

Selamat pertengahan minggu (Happy hump day)! 😀

Ikut Pelatihan Penerjemahan, Yuk

Ilmu dan pengetahuan bisa diperoleh dari mana saja. Sebagai penerjemah, baik pemula maupun yang berpengalaman, mengikuti pelatihan dan berkumpul bersama penerjemah lain adalah hal yang wajib dilakukan. Tujuannya adalah menambah ilmu dan pengetahuan serta memperluas jejaring. Terkadang, pekerjaan bisa didapat dari rekan penerjemah juga lho.

Bulan depan, ada rangkaian pelatihan menarik yang akan diselenggarakan oleh Lembaga Bahasa Internasional (LBI) Universitas Indonesia, yaitu Pelatihan Penerjemahan dan Penjurubahasaan di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, UI Depok tanggal 6-11 Agustus 2018. Saya akan mengikuti salah satu pelatihannya, yaitu pada tanggal 11 Agustus 2018. Pelatihan selama lima hari ini mencakup pengenalan penerjemahan dokumen hukum dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris, penerjemahan subtitle, penerjemahan menggunakan CAT Tools (alat bantu penerjemahan atau di kalangan penerjemah kerap disebut meong, hehe), dan note taking untuk penjurubahasaan konsekutif.

Bagi yang ingin menambah ilmu baru dan wawasan tentang dunia penerjemahan dan penjurubahasaan, pelatihan ini wajib diikuti. Pendaftaran, biaya, dan informasi selengkapnya tentang pelatihan ini dapat dilihat di bawah ini.

57a6ef08-8d63-41c8-a306-f43a4ea88ef8Selain LBI UI, Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) sebagai wadah resmi yang menaungi para penerjemah dan juru bahasa juga sering mengadakan pelatihan. Tidak hanya HPI Pusat, Komisariat Daerah HPI pun kerap mengadakan pelatihan yang bermanfaat bagi para anggotanya di daerah. Untuk keterangan lengkap mengenai jadwal pelatihan yang akan diselenggarakan HPI Pusat, lihat di sini. Untuk informasi tentang pelatihan mendatang yang akan diselenggarakan oleh HPI Komda Bali tempat saya bernaung, akan saya informasikan juga melalui blog ini.

Yuk, perkaya diri dengan informasi dan pengetahuan baru 😉

af47a018-f81d-4818-aa24-380eb7b21ffe

Bekerja dari Rumah (Curahan Hati Penerjemah Lepas)

Tetangga (T): “Mbak, kerja di mana?”

Saya (S): “Di rumah, Bu.”

T: “Kerjanya apa ya, Mbak?”

S: “Penerjemah, Bu.”

T: “Ohhh… Kantornya di mana ya?”

S: “Tidak ada kantor, Bu. Saya bisa kerja dari rumah atau dari mana saja” (sambil menyunggingkan senyum yang menurut saya paling manis, hihihi)

Itu adalah potongan percakapan yang paling sering terjadi ketika saya bertegur sapa dengan kerabat, kenalan, atau tetangga baru. Mereka selalu kebingungan ketika mendengar bahwa saya adalah penerjemah yang bekerja dari rumah, tidak ngantor 🙂

Saya sering berupaya menjelaskan tentang pekerjaan saya saat ditanya seperti ini, tapi tidak semua orang bisa memahami. Menurut standar sosial yang berlaku di sini, bekerja berarti “ngantor”, atau “pegawai negeri”. Masih cukup banyak orang yang bingung dengan gaya bekerja penerjemah lepas* seperti saya ini. Salah satu jurus andalan saya untuk menjawab pertanyaan dan kebingungan semacam ini dengan jitu adalah dengan memberikan kartu nama saya dan berkata, “Ini Bu/Pak, siapa tahu nanti perlu penerjemah, hubungi saya saja.” (Sekalian promosi, hihihi) Biasanya mereka akan manggut-manggut sambil melihat kartu nama saya dan berkomentar “Ooo gitu ya Mbak. Oke.”

Begitu banyak rekan seprofesi saya yang juga pernah mengalami hal yang sama dan harus menjawab pertanyaan yang sama. Saya pun sering membaca dan mendengar kisah mereka dan geli sendiri, karena ada beberapa dari mereka yang bahkan disangka memelihara tuyul atau pesugihan untuk menghasilkan uang. Untunglah, saya belum pernah dicap demikian. Eh, mungkin ada yang berpikir begitu tapi saya saja yang tidak tahu 😉 Namun, saya berpikir, “Ah sudahlah, untuk apa memedulikan apa yang dipikirkan orang, selama kita memperoleh penghasilan secara halal dan tidak menyusahkan orang lain.” Tentu saja, tidak lupa melapor dan membayar pajak 🙂

Saya kerap teringat, dan terkadang meminjam ungkapan yang dicetuskan penerjemah senior Mbak Dina Begum: “I am officeless, but not jobless.”

Adakah rekan-rekan yang pernah mengalami hal serupa?

*Penerjemah lepas = freelance translator

Interpreting Assignment in Makassar – 4 & 5 July 2018

Minggu ini, saya beruntung mendapat kesempatan menjadi juru bahasa (interpreter) di acara tahunan yang diadakan oleh Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Acara ini adalah konferensi keuangan Islami “Annual Islamic Finance Conference” yang sudah dua kali digelar, dan kali ketiga ini diselenggarakan di Makassar, Sulawesi Selatan. (Informasi lebih lengkap tentang 3rd Annual Islamic Finance Conference dapat dibaca di sini).

Seperti biasa, pekerjaan penjurubahasaan simultan atau simultaneous interpretation selalu melibatkan dua orang juru bahasa yang bekerja dari dalam bilik juru bahasa atau interpretation booth. Pekerjaan kali ini kembali mempertemukan saya dengan salah satu rekan juru bahasa berpengalaman di Bali, Ayu Septiari. Saya sudah beberapa kali bekerja dalam booth bersama Ayu, dan kami sudah saling cocok dan mengetahui kapasitas serta kebiasaan ketika bekerja bersama. Kecocokan dengan rekan kerja di dalam booth adalah hal penting karena ini memengaruhi kualitas pekerjaan. Jadi, jika mendapat rekan kerja yang belum dikenal, usahakan untuk mengakrabkan diri agar susana dalam booth tidak kaku, dan membicarakan hal teknis yang mendukung pekerjaan yang akan dilakukan bersama, seperti berapa lama waktu yang diperlukan masing-masing juru bahasa untuk menerjemahkan paparan pembicara, etika di dalam booth ketika rekan sedang bekerja dan kita menjalani masa jeda, dan apa yang harus dilakukan ketika ada masalah dengan alat SIS (Simultaneous Interpretation System) yang digunakan.

Saya dan Ayu tiba di Makassar hari Selasa, 3 Juli pukul 7 malam. Kami langsung menuju tempat menginap yang telah disediakan oleh penyelenggara, dan memutuskan untuk beristirahat sambil bersiap untuk menghadapi pekerjaan esok harinya. Sebelum tiba, kami telah mengumpulkan bahan bacaan dan menyusun glosarium kecil mengenai topik yang akan dibicarakan di AIFC ini, yaitu keuangan dan perbankan Islami atau syariah. Ini adalah salah satu hal penting yang harus dilakukan oleh juru bahasa sebelum mulai bekerja. Istilah-istilah penting yang terkait dengan topik bahasan acara harus diketahui dan dikuasai agar tidak gagap saat bekerja.

Keesokan harinya, kami diharapkan sudah tiba di lokasi acara yaitu Four Points by Sheraton Makassar pada pukul 8. Acara dimulai pukul 9, dan berbekal agenda terbaru, materi yang kami kumpulkan, dan bahan presentasi peserta yang kami peroleh dari penyelenggara sebagai acuan, kami pun mulai bekerja.

Hari pertama kami lalui dengan sukses. Kendala umum yang kerap dihadapi oleh juru bahasa adalah pembicara yang berbicara sangat cepat (apalagi saat mereka membaca naskah yang sudah dipersiapkan sebelumnya), dan melontarkan ungkapan, istilah, atau lelucon yang sulit untuk diterjemahkan. Wah, kalau sudah begini, otak harus berpikir dengan cepat agar hasil terjemahan lisan yang dihasilkan tidak kaku, atau lebih parah lagi tidak dapat diterjemahkan dengan baik. Untunglah kali ini saya dan rekan tidak menemui kendala yang berarti, dan hari kedua pun dapat kami lalui dengan lancar.

Saat semua sesi acara telah berakhir pada sore hari Kamis, 5 Juli, saya merasa sangat lega dan puas. Lega karena saya dan rekan berhasil menjalankan tugas dengan baik. Puas karena sekali lagi saya mendapat kesempatan untuk mengasah kemampuan sebagai juru bahasa dan memperoleh ilmu baru mengenai keuangan, ekonomi, dan fintech syariah. Sayang waktu kami di Makassar terbatas sehingga kami tidak sempat sepenuhnya menikmati pesona kota Makassar. Saya dan Ayu hanya sempat berkunjung ke Pantai Losari yang terkenal dan mencicipi hidangan laut di sekitar sana.

Foto diambil dari Google

Foto di atas adalah satu-satunya yang sempat saya ambil menjelang matahari terbenam di lokasi pantai yang dipenuhi masyarakat yang menikmati keindahan pantai dan hiburan serta makanan yang dijajakan penjual di sana. Hehehe. Saya tidak sempat mengambil foto makanan yang saya nikmati di Makassar, karena saya selalu lupa saking laparnya sehingga makanan sudah ludes duluan sebelum sempat difoto, hihihi 😂😂 Pada Kamis malam pukul 7.30, kami pun bertolak kembali ke Bali untuk kembali menjalankan tugas masing-masing.

Nah, itulah secuil pengalaman saya saat bertugas sebagai juru bahasa. Tempat baru, pengalaman baru, dan tantangan yang saya hadapi semuanya memberi kebahagiaan karena saya beruntung bisa melakukan hal yang saya sukai sekaligus memperoleh penghasilan dari sana 😊

I’m Back!

I’ve been thinking about refreshing this website since last month early this year. Hm, I wish I had done it sooner. It took me only half an hour to get it up and running. I’ve been putting it aside for months, and haven’t written anything since 2016 (!).

Once I started it, it was easily done and voila! Now I can focus on sharing my experiences again (well, it’s basically “curhat” :>). I guess I dreaded one thing only: to start. I was worried it would be complicated. I was worried it would take too much time, and I didn’t know where to start. Then last Saturday I sat down with my pen and journal, and started breaking down this dreaded task into smaller ones. I came up with 5 items on my list and set a reminder to start the following week.

Now here I am! My website is rejuvenated (chuckle :p) and I’ve ticked off all items on my to-do list, under a big header “Start My Professional Website”, haha!

So, lesson learned: don’t hesitate to start, and always start small. Start from the smallest task, and once you accomplish it, you will feel motivated to get to the bigger tasks.