Impostor Syndrome dan Menjadi Narasumber di Webinar TUJJU Media

Pada 24 Februari lalu, saya diminta menjadi narasumber dalam webinar yang digelar oleh TUJJU Media, sebuah platform pelokalan konten global dari Indonesia. Webinar ini nantinya akan dimuat di TUJJU University, platform TUJJU yang memuat berbagai konten edukasi untuk para penerjemah lepas yang berkarier bersama mereka. Ketika dihubungi oleh perwakilan divisi Partner Engagement TUJJU Media, jujur saja saya tidak langsung berkata ‘ya’. Saya masih ragu. Kali terakhir saya mengisi webinar adalah untuk sesi yang diselenggarakan Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) mengenai cara memulai karier sebagai penerjemah lepas. Sejak saat itu, saya tidak pernah mengisi webinar lagi. Webinar HPI itu malah kesempatan perdana saya bicara di depan para penerjemah lepas dari seantero Indonesia.

Waktu itu, saya gugup setengah mati. Saya khawatir ekspektasi peserta akan terlalu tinggi dan saya tidak sanggup memenuhinya. ๐Ÿ˜ฆ Padahal, saya sudah berpengalaman selama lebih dari 10 tahun berkarier sebagai penerjemah dan juru bahasa lepas. Waktu yang tidak singkat, bukan? Saya sudah banyak merasakan asam garam dan pahit manis industri bahasa dan itu saja sudah cukup menjadi andalan utama saya untuk berbagi pengalaman. Hmmm, apakah ini yang namanya impostor syndrome? Apakah saya tidak cukup percaya diri karena merasa tidak yakin orang lain akan memercayai saya dan pengalaman saya selama ini? Namun selepas webinar HPI ketika itu, saya merasa sangat bangga dan senang bisa berbagi pengalaman. Begitu banyak pertanyaan yang diajukan dan saya sanggup menjawabnya dengan baik berdasarkan pengalaman saya sendiri. Peserta pun merasa senang dan berterima kasih atas sesi yang saya bawakan. Begitulah, kepercayaan diri saya bertambah sejak saat itu. Secara signifikan, tentu saja! ๐Ÿ™‚

Kembali ke webinar TUJJU Media, ya. Setelah berpikir seharian, akhirnya saya mengiyakan tawaran itu. Saya pun mulai berkoordinasi dengan rekan-rekan TUJJU Media yang ramah dan suportif. Mulai dari rapat daring untuk membahas acara, salindia yang harus saya siapkan, hingga konsep poster dan unggahan untuk promosi di media sosial saya dan TUJJU Media. Selama kurang lebih 3 minggu, kami bekerja sama dan bertukar pendapat. Akhirnya tibalah hari-H dan saya merasa makin gugup. Apalagi kami sepakat bahwa saya akan mengisi webinar dalam bahasa Inggris. Syukurlah kegugupan saya teratasi dengan interaksi yang baik dan seru dengan peserta dan arahan rekan-rekan dari TUJJU. Peserta yang berjumlah sekitar 130-an orang masih bertahan menyimak webinar hingga akhir dan mengikuti kuis berhadiah yang diadakan di akhir acara. Ada beberapa pertanyaan yang sayangnya tidak sempat saya jawab karena ternyata waktu selama hampir 2 jam tidak terasa berlalu dengan sangat cepat. Terobati sudah usaha saya menyiapkan salindia yang menarik sebagai bahan informasi dan mental untuk (sekali lagi) berbicara di depan umum. Fiuh… Senang sekali mendengar banyak pertanyaan bernas dari para peserta dan mampu menjawab semuanya dengan baik.

Tekad saya berbagi pengalaman lewat lebih banyak kanal dan media pun makin bulat. Saya merasa masih banyak calon penerjemah dan penerjemah pemula yang belum mengetahui dengan baik industri penerjemahan ini dan bagaimana menavigasinya demi menjadi penerjemah yang mumpuni dan berkualitas. Apalagi di era digital ini, kemampuan kita beradaptasi dan menyerap pengetahuan baru yang muncul hampir setiap hari sangat ditantang. Mampukah kita maju terus dan makin terampil? Jawabannya ada di diri kita masing-masing. Makin ulet dan tekun kamu berusaha, makin baik hasilnya. Selain itu, saya akui saya agak ‘iri’ dengan generasi penerjemah saat ini yang bisa dengan mudahnya mendapat informasi dan pengetahuan dari internet. Saat saya mulai berkarier dulu, saya benar-benar memulai dari nol dengan pengetahuan minim dan sumber informasi terbatas tentang penerjemahan. Ah, mungkin perasaan ‘kurang info’ itu yang masih membayangi saya sehingga merasa kurang percaya diri. Hehehe…

Terima kasih kepada TUJJU Media yang sudah memercayai saya untuk berbagi pengalaman. Tak lupa saya sampaikan apresiasi juga kepada para peserta yang sangat antusias dan interaktif sepanjang sesi. Semoga bisa bertemu di lain kesempatan dan kita semua bisa sukses serta maju bersama.

Pernahkah kamu merasakan impostor syndrome ini? Bagaimana kamu mengatasinya? Maju terus seperti saya atau menyerah? ๐Ÿ™‚

Salam sukses!

Hai! Saya Desi, penerjemah bersertifikat HPI untuk pasangan bahasa Inggris-Indonesia dan Indonesia-Inggris, sekaligus juru bahasa profesional. Saya berbagi pengalaman sebagai penerjemah lepas melalui blog dan siniar saya “Being a Translator: a Podcast by Desi Mandarini“. Saat ini, saya masih menjadi anggota aktif Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) sejak tahun 2010, dan Perhimpunan Juru Bahasa Konferensi Indonesia (AICI). Ingin tahu lebih banyak tentang pekerjaan saya? Mari berteman di Instagram, Twitter, Facebook, atau LinkedIn. ย Punya pertanyaan atau komentar? Kirimkan saja melalui surel ke info@desimandarini.com. Salam sukses!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.