Hal-Hal yang Wajib Dilakukan oleh Juru Bahasa Agar Dapat Bekerja dengan Baik (An Interpreter’s Checklist for An Excellent Interpreting Performance)


Seperti halnya semua profesi, profesi saya juru bahasa (interpreter) juga menuntut saya untuk selalu mengasah kemampuan dan menjaga kualitas pekerjaan agar tidak mengecewakan klien. Selama kurang lebih delapan tahun bekerja sebagai juru bahasa, saya belajar banyak mengenai apa saja yang harus saya lakukan sebelum bekerja. Saya pun pernah melakukan beberapa kesalahan, apalagi ketika baru mulai bekerja di bidang ini. Meski begitu, saya tidak lantas patah semangat. Saya merasa terpacu untuk belajar dari kesalahan yang saya lakukan dan memperbaiki kualitas pekerjaan berikutnya. 

As an interpreter, I am required to deliver high-quality performance and always maintain my interpreting skills. In my whole career as an interpreter for about eight years, I’ve now come to the phase where I already have a mental checklist in my head whenever I get an interpreting assignment. I learn from my mistakes, especially from the time when I was a novice. Nevertheless, it never stopped me from learning and improving my skills. 

Apa saja yang saya lakukan untuk  menghasilkan performa yang baik saat bekerja sebagai juru bahasa? Berikut ini adalah enam hal yang wajib saya lakukan sebelum memulai pekerjaan saya di dalam booth juru bahasa. Semua hal ini berlaku untuk penjurubahasaan simultan (simultaneous interpretation) maupun konsekutif (consecutive interpretation) 😉

What’s in my mental checklist? What are the key points to produce high-quality translation from inside a booth? Here’s a list of six things that I always do before I start working from inside a simultaneous interpretation booth. Please note that these apply to both simultaneous and consecutive interpretation 😉  

Melakukan riset tentang topik acara (I do my own research)

Photo by Pixabay on Pexels.com

Ini HARUS dilakukan, kecuali jika kita sudah sangat familier dengan topik acara dan hafal semua istilah khususnya di luar kepala. Meski demikian, terkadang saya atau rekan kerja menemui kebuntuan ketika mendengar satu istilah. Ini hal yang wajar, dan catatan riset akan sangat membantu dalam keadaan seperti ini. Saat ini terjadi, saya cukup melirik sedikit ke catatan saya, atau menyodorkan catatan ke rekan kerja yang kebingungan. 

I always make sure that I do my own research about the event. If you’re thoroughly familiar with the topic and the specific terminologies used, then you can always skip this step. However, chances are I will forget a certain term at some point. Having my own notes about key points and terms used in the event will save save me from being stuck in the midst of translating just because I forget the Indonesian or English translation of a certain word. Moreover, it will also help my booth partner when they are stuck and I have to take over the mic. 

Berdiskusi dengan booth partner sebelum mulai bekerja (I have a quick chat with my booth partner)

Photo by Christina Morillo on Pexels.com

Sebelum acara dimulai, atau bahkan sebelum hari-H, saya dan pasangan kerja selalu menyempatkan untuk bertukar informasi mengenai topik acara. Terkadang rekan kerja saya lebih memahami topik acara dan memberitahu saya lebih banyak informasi tentang itu. Demikian juga sebaliknya jika saya menemukan informasi baru atau lebih memahami topik acara. Kami juga biasanya membicarakan pembagian waktu kerja di dalam booth. Misalnya, siapa yang akan memulai menerjemah, dan untuk berapa lama sebelum dialihkan ke rekan. Dengan demikian, saya dan rekan kerja akan siap bekerja sama dengan baik. 

At least a day before the gig, I have a quick chat my booth partner to share all the information and notes that we make. We will also determine who will take the mic first and how long each of us will be able to interpret before handing over the mic to the other. This ensures a smooth workflow inside the booth.

Tiba di venue minimal satu atau dua jam sebelum acara dimulai (I always arrive one or two hours before the event starts)

Photo by Pixabay on Pexels.com

Penyelenggara acara biasanya mewajibkan juru bahasa untuk hadir di tempat acara minimal 2 jam sebelum mulai. Walaupun tidak secara khusus diminta, saya tetap membiasakan diri untuk datang lebih awal dan TIDAK PERNAH TERLAMBAT. Ini penting untuk menghindari kebingungan saat mencari lokasi acara, apalagi ketika saya belum pernah ke lokasi tersebut. Tentu butuh waktu untuk menuju ke sana dan mencari ruangan tempat acara dilangsungkan. Selain itu, saya juga perlu waktu untuk memeriksa perlengkapan di dalam booth dan mengecek alat SIS (Simultaneous Interpretation System). Mengapa perlu dicek? Ada berbagai jenis SIS yang umum digunakan untuk pekerjaan ini, dan konsol yang digunakan pun berbeda layout-nya. Jadi, saya harus mengetahui tombol mana yang digunakan untuk berpindah channel (jika diperlukan untuk berganti pasangan bahasa dari Inggris ke Indonesia atau sebaliknya), pengatur volume suara dari floor dan suara dari mikrofon saya, atau sekadar memeriksa apakah alat SIS sudah berfungsi atau belum. Jika acara sudah dimulai dan mikrofon konsol SIS atau headset kita tidak berfungsi dan peserta acara tidak bisa mendengar tejemahan kita, kita pasti akan panik, hehehe. Ini akan mengganggu pekerjaan kita meski hanya beberapa detik. 

Event organisers usually requires interpreters to stand by at least two hours before the event starts. Even when I’m not specifically asked to do so, I always get to the venue much earlier and NEVER TOO LATE. Sometimes the venue is located in a hotel or building that I have never been to before. It will definitely take me some extra time to get there. Interpreters also have to be familiar with the SIS (Simultaneous Interpretation System) device being used for the event. There are various types of SIS devices out there and I need to make sure I’m familiar with all the different buttons and layouts of the SIS console. I have to know which button to press when I need to switch channels, how to turn the audio up or down, or to simply check if my mic works. It’s always worth my time to check on these things to avoid confusion whilst working, which will affect my performance for the day. 

Memahami dan menerapkan etika kerja di dalam booth (I make sure I am completely aware of booth etiquette)

Beginilah pemandangan saat saya bekerja di dalam booth 🙂
(A view from inside the booth)

Selain ketiga hal wajib di atas, sebagai juru bahasa saya juga harus memahami etika bekerja di dalam booth. Juru bahasa, khususnya dalam penjurubahasaan simultan, memerlukan konsentrasi penuh saat bekerja. Hindari melakukan hal-hal yang menimbulkan suara mengganggu di dalam booth, seperti memainkan pulpen, membolak-balik halaman buku catatan, berbisik atau bicara di telepon (waduh!), apalagi tidur, hahaha! Matikan atau senyapkan ponsel, laptop, atau tablet saat berada di dalam booth dan bekerja. Jika ingin memberitahu rekan kerja sesuatu, tulis di kertas dan sodorkan ke rekan perlahan-lahan. Mikrofon SIS umumnya sangat peka akan suara sehalus apa pun. Jika ingin batuk atau bersin, matikan mikrofon atau pencet tombol Pause. Saya pun selalu fokus pada acara yang berlangsung, jadi ketika rekan mengalami kebuntuan, harus digantikan, atau perlu ke kamar kecil, saya selalu siap menggantikan. Eh, saya pernah lupa menyalakan mikrofon dan akibatnya peserta acara melihat ke arah booth dengan wajah penuh tanda tanya sambil memeriksa receiver mereka. Duh, teledornya saya 😦

The next thing I always keep in mind is booth etiquette. Simultaneous interpreters are required to listen to someone’s speech AND deliver the translation simultaneously, and I have to tell you it’s not an easy job 😉 Therefore, they need to be completely free from any distractions or disturbing sounds, like the sound of rustling papers, pen clicking, whispers, or even phone conversations (what??). I put my phone on silent mode and switched off the notification volume on my laptop.  Most SIS mics, if not all,  are so sensitive that they can pick up even the softest sound. That’s why I always do my best not to make disturbing sounds that can disturb my booth partner. When I need to share some information with while they’re interpreting, I will write it on my notebook and carefully let them read it. When I feel the urge to go to the restroom or sneeze, I can always press Pause button or switch off the mic. I forgot to switch on the mic once, and as the result, the event participants looked over to the booth to check if I was actually translating what the speaker’s saying. Oh my, I will never forget it.

Istirahat yang cukup sehari sebelum bekerja (I always make sure I’m well rested)

Photo by Acharaporn Kamornboonyarush on Pexels.com

 Nah, yang terakhir tapi tak kalah penting adalah istirahat sehari sebelum bekerja. Biasanya acara dimulai pagi hari, dan jika saya harus hadir minimal satu atau dua jam sebelumnya, ini artinya saya harus bangun pagi-pagi. Saya selalu memastikan untuk tidur lebih awal malam sebelumnya agar stamina terjaga dan bisa bekerja dengan baik. Jangan sampai penyelenggara acara melihat saya ketiduran di dalam booth, hahaha! 

Last but not least is to get enough sleep the night before the gig. I have to be at the venue one or two hours before the event, so I always make sure I’m well rested and fit to work. It won’t paint you a good impression if the event organizer sees you take a snooze inside the booth! 


Desi is a certified English – Indonesian translator and conference interpreter. She’s a native Indonesian and her specializations are technology and human resources. She also translates materials pertaining education, aviation security, online language learning, and fisheries. She has performed interpretation in numerous national dan international conferences and events. She’s into books, writing, movies, and learning foreign languages. Desi manages a blog where she writes and shares about her experience as a linguist as well as tips and tricks to to work and maintain career as a translator and interpreter. Desi is a member of Association of Indonesian Translators (HPI) and Association of Indonesian Conference Interpreters (AICI). Follow her on Instagram, Twitter, Facebook, and LinkedIn.  For questions about translation and interpretation services or quotes, send email to hello@desimandarini.com.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.