Beberapa Hal yang Sebaiknya Dihindari Saat Membuat Lamaran Sebagai Penerjemah

Pagi ini, seperti biasa saya memulai hari kerja dengan memeriksa kotak masuk surel seperti biasa. Selain beberapa pesan terkait pekerjaan dan pribadi, ada satu surel yang isinya menawarkan kerja sama untuk penerjemahan. Ada beragam bahasa asing yang ditawarkan oleh pengirim surel, dan harganya tergolong murah (ups). Namun, saya tidak tahu terjemahan untuk bidang apa yang ditawarkan karena si pengirim tidak menyebutkan hal itu.

Nah, inilah yang menurunkan peluang penerjemah untuk memperoleh pekerjaan dari calon klien. Penerima lamaran hanya akan membaca sekilas, lalu setelahnya tidak akan ingat sama sekali. Mengapa?

Coba bayangkan, ketika kamu ingin membeli susu dan roti lalu pergi ke supermarket. Bagian mana di supermarket yang kamu tuju? Pasti langsung ke bagian bahan makanan, kan? Kecuali kamu seperti saya yang suka cepat teralihkan perhatiannya oleh hal-hal lucu dan baru di rak supermarket, sehingga jadi lapar mata dan lupa tujuan awal, hehehe. Eh, kembali ke surat lamaran, ya. Klien pun memiliki pemikiran yang sama seperti saya yang seharusnya membeli roti tapi malah membeli barang tidak penting lainnya seperti kita yang akan mencari sesuatu secara spesifik. Ketika ada yang tidak sesuai, ya pasti dilewatkan begitu saja. Selain itu, agensi, perusahaan, atau si pemilik usaha mungkin juga memiliki waktu yang terbatas untuk membaca semua surat lamaran yang masuk. Jadi, lamaran yang dari judulnya saja sudah tidak nyambung pasti akan dilewatkan atau tidak dibaca sama sekali. Sayang, kan? Apalagi kalau kamu sebenarnya memiliki keterampilan dan kemampuan yang baik dan mungkin memenuhi syarat dari calon klien.

Selain itu, penulisan tanda baca dan ejaan yang kerap salah juga bisa membuat peluang lamaranmu dipertimbangkan jadi berkurang atau bahkan hilang sama sekali. Cobalah berpikir seolah-olah kamu adalah si calon klien. Apa saja sih hal-hal yang membuat kamu tidak tertarik membaca surat lamaran seseorang? Format dokumen dan bentuk hurufnya? Kata sapaan yang digunakan oleh si pengirim? Gaya penulisan yang terlalu santai atau terlalu kaku sehingga terkesan asal-asalan? Atau malah isi lamaran yang sama sekali tidak sesuai dengan apa yang dicari oleh calon klien? Semua itu dapat membantumu menentukan seperti apa sebaiknya isi surat lamaranmu. Ini pun membuktikan bahwa si pelamar tidak melakukan riset terlebih dahulu sebelum membuat lamarannya. Duh, bagaimana kalau diterima dan diberi pekerjaan nantinya? Klien akan beranggapan kamu kurang berusaha keras. Ingat ya, menerjemahkan tidak sekadar mengganti kata-kata dalam bahasa Inggris menjadi bahasa Indonesia. Kalau hanya itu, mesin penerjemah pun bisa melakukannya.

Oh ya. Satu hal lagi yang patut kamu coba adalah menyertakan contoh terjemahan pendek. Ambil teks pendek dari sumber bebas (ingat, jangan sampai melanggar hak cipta, ya) seperti Google, pilih yang sesuai dengan minat atau bidang yang kamu kuasai, lalu terjemahkan. Lampirkan contoh terjemahan ini di surelmu sebagai bahan pertimbangan klien. Cukup dua sampai tiga halaman saja, kok. Ini juga menunjukkan kesungguhanmu minatmu untuk menjadi penerjemah. Klien akan berpikir, “Wah, dia sempat meluangkan waktu untuk membuat contoh terjemahan, lo. Coba baca dulu, ah.” Setidaknya si calon klien akan tertarik untuk membaca terjemahanmu.

Itu saja kiat sederhana dari saya untuk mengirim lamaran kerja sebagai penerjemah. Selalu ingat untuk membayangkan dirimu sebagai si calon klien. Tunjukkan bahwa kamu memang layak diterima sebagai penerjemah dan mampu mengemban tanggung jawab saat nantinya harus mengerjakan terjemahan untuk si klien. Saya juga pernah menulis kiat melamar ke agensi penerjemahan di sini. Silakan dibaca lagi, ya.

Apa lagi yang menurutmu harus dihindari saat membuat lamaran sebagai penerjemah lepas? Kalau masih ada yang belum saya sebutkan, silakan beri tahu di bagian komentar.

Salam sukses.

2 thoughts on “Beberapa Hal yang Sebaiknya Dihindari Saat Membuat Lamaran Sebagai Penerjemah

  1. Kalau saya belum pernah buat surat lamaran sebagai penerjemah. Melampirkan hasil terjemahan kita itu seperti portofolio, ya mbak. Melampirkan hasil terjemahan kita di surat lamaran cukup dua sampai tiga halaman saja? Wah lumayan juga tuh. Kirain cukup dua sampai tiga paragraf saja :D.

    Like

Leave a Reply to Desi Mandarini Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.