Berkata ‘Tidak’ Kepada Klien

Pernahkah kamu berpikir untuk berkata tidak kepada klien? Saya, sih, sering. Padahal, dulu saya paling tidak bisa menolak permintaan klien. Saya lebih sering beranggapan bahwa menolak klien berarti menolak rezeki. Hm, benarkah begitu?

Sebelum berpikir negatif tentang kata ‘tidak’, kita haurus menimbang konteksnya dulu. Kalau kita berkata ‘tidak’ untuk menolak permintaan yang tidak masuk akal dari pemberi kerja, misalnya menerjemahkan dokumen dengan topik yang sama sekali tidak kita kuasai, itu artinya kita menyelamatkan diri sendiri dan klien dari bahaya besar, yaitu terjemahan yang amburadul. Hehehe. Sebab bila nekat menerimanya, kemungkinan besar hasil terjemahan akan tidak bagus dan merugikan klien. Klien juga bakal rugi membayar jasa kita karena hasilnya tidak sesuai harapan. Bisa saja kamu berbohong di awal dengan menyanggupi pekerjaan dan menganggap enteng. Ah, ini sih bisa diakali. Kalau kamu mengakalinya dengan meminta bantuan rekan sejawat yang menguasai topiknya, itu malah bagus. Tapiii, kalau mengakalinya dengan berpikiran klien tidak akan tahu, artinya kamu menggali lubang yang akan membuat dirimu sendiri terperosok ke dalamnya.

Berkata ‘tidak’ juga bisa dilakukan ketika kamu kewalahan dengan pekerjaan dan tidak sanggup lagi menerima proyek lain. Selain itu, bayaran yang tidak sesuai dengan tarif normalmu dan tarif pasar yang berlaku juga menjadi alasan lain untuk berani menolak klien. Tenggat yang terlalu pendek juga bisa berakibat fatal pada hasil terjemahanmu. Jangan hanya karena cuan kamu menjadi lupa akan kapasitas dan batas kemampuanmu sendiri.

Menolak atau berkata ‘tidak’ adalah memberi peluang untuk berkata ‘ya’ kepada peluang lain. Intinya, kamu memilah apa yang ingin kamu terima demi kepuasan diri dan perkembangan keterampilanmu. Ini juga berarti mengembangkan profesionalisme dengan berani menolak tawaran yang hanya akan membuatmu menyesal kemudian karena menghambatmu mendapatkan kesempatan dan proyek yang lebih baik dan lebih cocok denganmu. Jangan salah, ya. Saya pernah menolak tawaran karena tidak disampaikan dengan baik, malah dengan cara yang cenderung kasar dan tidak sopan. Dari sana saja saya sudah ngeh kalau klien bersangkutan tidak memiliki etika dan profesionalisme. Nawarin pekerjaan saja begitu caranya, kalau nanti saya menagih bayaran bagaimana tanggapannya? 😩😂

Sebaliknya, klien yang baik malah menanggapi dengan sopan penolakan kita dan menanyakan alasannya. Nah, dari sana terbangunlah komunikasi yang baik dan justru menghasilkan penawaran baru. Saat itu, saya sedang sangat sibuk dan menolak satu tawaran. Si klien malah bertanya kapan tenggat yang tepat untuk saya menyelesaikan pekerjaan yang mereka tawarkan itu. Akhirnya, terjadi kesepakatan dan penolakan saya berbuah manis dengan satu proyek baru. 😃

Pernahkah kamu menolak permintaan atau tawaran dari klien? Apakah kamu memberitahukan alasannya kepada mereka?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.