Sepotong Cerita tentang Penjurubahasaan Simultan Jarak Jauh (RSI)

Pandemi yang melanda dunia selama hampir setahun belakangan membuat pola kerja dan hidup berubah drastis. Sebagai juru bahasa (interpreter), saya yang dulu biasa bekerja di lapangan (baca: lokasi penyelenggaraan konferensi dan pelatihan seperti ruang konferensi hotel) kini beralih ke mode kerja daring. Ya, saya menjurubahasakan rapat, pelatihan, dan seminar secara daring melalui platform webinar seperti Zoom dan kawan-kawan, yang dikenal sebagai Remote Simultaneous Interpretetation (RSI). Mudah, ya? Relatif nyaman, tapi tidak selalu mudah, lo. Bahkan kerap lebih sulit daripada bekerja langsung di lokasi.

Tempo hari, saya mendapat tugas menjadi juru bahasa di sebuah acara rapat tentang program kelautan. Acara diadakan di sebuah hotel di Jakarta dan saya bertugas menerjemahkan acara untuk beberapa peserta asing yang hadir melalui platform Zoom. Sebagian besar peserta mengikuti acara secara langsung di lokasi. Saya dan penyelenggara sudah berdiskusi dan melakukan penjurubahasaan percobaan beberapa hari sebelumnya. Sejauh ini, semua berjalan lancar.

Nah, pada hari H, ternyata ada kendala pada pengaturan sound system di pihak hotel. Walhasil saya tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang disampaikan oleh pembicara. Suara yang masuk ke headphone saya sangat jauh dari bagus, bergema dan bagaikan mendengar suara dari dalam air. Padahal, koneksi Internet saya sangat bagus saat itu. Saya menggunakan koneksi LAN dan sudah memeriksa kecepatan koneksi saya saat itu. Headphone yang saya gunakan pun masih befungsi dengan sangat baik.

Rekan saya pun mengalami hal yang sama. Saya pun berulang kali memohon maaf kepada peserta asing dan menjelaskan kondisinya. Saya dan rekan juga terus menyampaikan ke pihak penyelenggara mengenai kendala ini, tetapi mereka pun tak berdaya karena ternyata yang bermasalah adalah masukan audio dari pihak hotel. Akhirnya saya hanya berusaha semaksimal mungkin menyimak dan menerjemahkan apa yang terdengar dengan jelas saja.

Selain itu, selama acara berlangsung (selama 2 jam!) saya harus ‘memaksa’ telinga saya menyimak potongan-potongan kalimat yang dapat terdengar jelas dan bisa saya terjemahkan. Bahkan saya harus terus mengenakan headphone dan terkadang ada suara latar yang mengganggu. Itu kerap terjadi dengan tiba-tiba dan dengan volume keras. Ini bisa berbahaya bagi telinga. Itu sebabnya juru bahasa harus benar-benar menjaga kesehatan pendengaran mereka sebagai aset kerja utama. RSI menambah banyak beban bagi pendengaran juru bahasa dan kesehatan mereka secara keseluruhan. Ada kemudahan dengan penggunaan teknologi yang canggih, namun ini dibarengi dengan konsekuensi yang cukup berat bagi para juru bahasa seperti yang saya paparkan sebelumnya.

Usai acara, penyelenggara memohon maaf atas kendala ini dan mengatakan ini tidak terduga. Para peserta asing mengatakan mereka memaklumi keadaan ini. Dari kejadian ini, saya yakin kamu bisa menyimpulkan bahwa RSI itu tidak semudah yang kamu bayangkan, bukan? Banyak hal menjadi penentu kelancaran pekerjaan ini. Bila berada langsung di lokasi, kamu setidaknya masih bisa meminta pihak penyelenggara atau teknisi booth untuk menambah volume keluaran dari mikrofon dan volume masukan di headphone juru bahasa.

Saat acara selesai, saya dengan lega melepaskan headphone dan mengistirahatkan telinga saya. Otak pun terasa sangat panas dan saya langsung ingin tidur dengan nyenyak. Eits, itu tentu saja setelah saya makan karena setelah energi otak dan mental terkuras, saya merasa sangat lapar. 😀 Pekerjaan yang hanya berlangsung dua jam terasa jauh lebih berat daripada yang biasa saya lakukan seharian di lapangan selama kurang lebih enam jam.

Jadi, masih berpikir menjadi juru bahasa itu mudah? Atau menganggap RSI jauh lebih menyenangkan? 🙂

Tetap sehat dan produktif, ya!

Hai! Saya Desi, penerjemah bersertifikat HPI untuk pasangan bahasa Inggris-Indonesia dan Indonesia-Inggris, sekaligus juru bahasa profesional. Saya berbagi pengalaman sebagai pekerja lepas melalui blog dan siniar saya “Being a Translator: a Podcast by Desi Mandarini“. Saya adalah anggota aktif Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) sejak tahun 2010, dan Perhimpunan Juru Bahasa Konferensi Indonesia (AICI). Ingin tahu lebih banyak tentang pekerjaan saya? Mari berteman di Instagram, Twitter, Facebook, atau LinkedIn.  Punya pertanyaan atau komentar? Kirimkan saja melalui surel ke info@desimandarini.com.

2 thoughts on “Sepotong Cerita tentang Penjurubahasaan Simultan Jarak Jauh (RSI)

Leave a Reply to Desi Mandarini Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.