Bekerja dari Rumah (Curahan Hati Penerjemah Lepas)

Tetangga (T): “Mbak, kerja di mana?”

Saya (S): “Di rumah, Bu.”

T: “Kerjanya apa ya, Mbak?”

S: “Penerjemah, Bu.”

T: “Ohhh… Kantornya di mana ya?”

S: “Tidak ada kantor, Bu. Saya bisa kerja dari rumah atau dari mana saja” (sambil menyunggingkan senyum yang menurut saya paling manis, hihihi)

Itu adalah potongan percakapan yang paling sering terjadi ketika saya bertegur sapa dengan kerabat, kenalan, atau tetangga baru. Mereka selalu kebingungan ketika mendengar bahwa saya adalah penerjemah yang bekerja dari rumah, tidak ngantor 🙂

Saya sering berupaya menjelaskan tentang pekerjaan saya saat ditanya seperti ini, tapi tidak semua orang bisa memahami. Menurut standar sosial yang berlaku di sini, bekerja berarti “ngantor”, atau “pegawai negeri”. Masih cukup banyak orang yang bingung dengan gaya bekerja penerjemah lepas* seperti saya ini. Salah satu jurus andalan saya untuk menjawab pertanyaan dan kebingungan semacam ini dengan jitu adalah dengan memberikan kartu nama saya dan berkata, “Ini Bu/Pak, siapa tahu nanti perlu penerjemah, hubungi saya saja.” (Sekalian promosi, hihihi) Biasanya mereka akan manggut-manggut sambil melihat kartu nama saya dan berkomentar “Ooo gitu ya Mbak. Oke.”

Begitu banyak rekan seprofesi saya yang juga pernah mengalami hal yang sama dan harus menjawab pertanyaan yang sama. Saya pun sering membaca dan mendengar kisah mereka dan geli sendiri, karena ada beberapa dari mereka yang bahkan disangka memelihara tuyul atau pesugihan untuk menghasilkan uang. Untunglah, saya belum pernah dicap demikian. Eh, mungkin ada yang berpikir begitu tapi saya saja yang tidak tahu 😉 Namun, saya berpikir, “Ah sudahlah, untuk apa memedulikan apa yang dipikirkan orang, selama kita memperoleh penghasilan secara halal dan tidak menyusahkan orang lain.” Tentu saja, tidak lupa melapor dan membayar pajak 🙂

Saya kerap teringat, dan terkadang meminjam ungkapan yang dicetuskan penerjemah senior Mbak Dina Begum: “I am officeless, but not jobless.”

Adakah rekan-rekan yang pernah mengalami hal serupa?

*Penerjemah lepas = freelance translator

Published by

Desi Mandarini

A translator and interpreter who loves music, books, journaling and movies.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

DCEONG PROJECT

sharing is one form of caring

TranslationPapers Bali

Accurate and Reliable

Suara Saking Bali

Translator | Interpreter | Editor

Dina's Pensieve

Blog penerjemah besertifikat HPI

Connecting the dots

Everything Will Make Sense

Manistebu.Com

Makin Eksis dengan Literasi dan Buku

%d bloggers like this: