Interpreting Assignment in Makassar – 4 & 5 July 2018

Minggu ini, saya beruntung mendapat kesempatan menjadi juru bahasa (interpreter) di acara tahunan yang diadakan oleh Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Acara ini adalah konferensi keuangan Islami “Annual Islamic Finance Conference” yang sudah dua kali digelar, dan kali ketiga ini diselenggarakan di Makassar, Sulawesi Selatan. (Informasi lebih lengkap tentang 3rd Annual Islamic Finance Conference dapat dibaca di sini).

Seperti biasa, pekerjaan penjurubahasaan simultan atau simultaneous interpretation selalu melibatkan dua orang juru bahasa yang bekerja dari dalam bilik juru bahasa atau interpretation booth. Pekerjaan kali ini kembali mempertemukan saya dengan salah satu rekan juru bahasa berpengalaman di Bali, Ayu Septiari. Saya sudah beberapa kali bekerja dalam booth bersama Ayu, dan kami sudah saling cocok dan mengetahui kapasitas serta kebiasaan ketika bekerja bersama. Kecocokan dengan rekan kerja di dalam booth adalah hal penting karena ini memengaruhi kualitas pekerjaan. Jadi, jika mendapat rekan kerja yang belum dikenal, usahakan untuk mengakrabkan diri agar susana dalam booth tidak kaku, dan membicarakan hal teknis yang mendukung pekerjaan yang akan dilakukan bersama, seperti berapa lama waktu yang diperlukan masing-masing juru bahasa untuk menerjemahkan paparan pembicara, etika di dalam booth ketika rekan sedang bekerja dan kita menjalani masa jeda, dan apa yang harus dilakukan ketika ada masalah dengan alat SIS (Simultaneous Interpretation System) yang digunakan.

Saya dan Ayu tiba di Makassar hari Selasa, 3 Juli pukul 7 malam. Kami langsung menuju tempat menginap yang telah disediakan oleh penyelenggara, dan memutuskan untuk beristirahat sambil bersiap untuk menghadapi pekerjaan esok harinya. Sebelum tiba, kami telah mengumpulkan bahan bacaan dan menyusun glosarium kecil mengenai topik yang akan dibicarakan di AIFC ini, yaitu keuangan dan perbankan Islami atau syariah. Ini adalah salah satu hal penting yang harus dilakukan oleh juru bahasa sebelum mulai bekerja. Istilah-istilah penting yang terkait dengan topik bahasan acara harus diketahui dan dikuasai agar tidak gagap saat bekerja.

Keesokan harinya, kami diharapkan sudah tiba di lokasi acara yaitu Four Points by Sheraton Makassar pada pukul 8. Acara dimulai pukul 9, dan berbekal agenda terbaru, materi yang kami kumpulkan, dan bahan presentasi peserta yang kami peroleh dari penyelenggara sebagai acuan, kami pun mulai bekerja.

Hari pertama kami lalui dengan sukses. Kendala umum yang kerap dihadapi oleh juru bahasa adalah pembicara yang berbicara sangat cepat (apalagi saat mereka membaca naskah yang sudah dipersiapkan sebelumnya), dan melontarkan ungkapan, istilah, atau lelucon yang sulit untuk diterjemahkan. Wah, kalau sudah begini, otak harus berpikir dengan cepat agar hasil terjemahan lisan yang dihasilkan tidak kaku, atau lebih parah lagi tidak dapat diterjemahkan dengan baik. Untunglah kali ini saya dan rekan tidak menemui kendala yang berarti, dan hari kedua pun dapat kami lalui dengan lancar.

Saat semua sesi acara telah berakhir pada sore hari Kamis, 5 Juli, saya merasa sangat lega dan puas. Lega karena saya dan rekan berhasil menjalankan tugas dengan baik. Puas karena sekali lagi saya mendapat kesempatan untuk mengasah kemampuan sebagai juru bahasa dan memperoleh ilmu baru mengenai keuangan, ekonomi, dan fintech syariah. Sayang waktu kami di Makassar terbatas sehingga kami tidak sempat sepenuhnya menikmati pesona kota Makassar. Saya dan Ayu hanya sempat berkunjung ke Pantai Losari yang terkenal dan mencicipi hidangan laut di sekitar sana.

Foto diambil dari Google

Foto di atas adalah satu-satunya yang sempat saya ambil menjelang matahari terbenam di lokasi pantai yang dipenuhi masyarakat yang menikmati keindahan pantai dan hiburan serta makanan yang dijajakan penjual di sana. Hehehe. Saya tidak sempat mengambil foto makanan yang saya nikmati di Makassar, karena saya selalu lupa saking laparnya sehingga makanan sudah ludes duluan sebelum sempat difoto, hihihi 😂😂 Pada Kamis malam pukul 7.30, kami pun bertolak kembali ke Bali untuk kembali menjalankan tugas masing-masing.

Nah, itulah secuil pengalaman saya saat bertugas sebagai juru bahasa. Tempat baru, pengalaman baru, dan tantangan yang saya hadapi semuanya memberi kebahagiaan karena saya beruntung bisa melakukan hal yang saya sukai sekaligus memperoleh penghasilan dari sana 😊

Published by

Desi Mandarini

A translator and interpreter who loves music, books, journaling and movies.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

DCEONG PROJECT

sharing is one form of caring

TranslationPapers Bali

Accurate and Reliable

Suara Saking Bali

Translator | Interpreter | Editor

Dina's Pensieve

Blog penerjemah besertifikat HPI

Connecting the dots

Everything Will Make Sense

Manistebu.Com

Makin Eksis dengan Literasi dan Buku

%d bloggers like this: