Lima Hal Tentang Penerjemah Lepas: Mitos atau Fakta?

Pernah mendengar lima hal berikut ini mengenai penerjemah lepas? Benar atau tidak, sih? Simak, yuk.

Penerjemah lepas bekerja sepanjang waktu tanpa kenal libur.

MITOS. Pekerja lepas juga manusia yang butuh istirahat. Liburan adalah hal penting agar tidak terjebak dalam kebosanan bekerja, terutama bagi pekerja lepas yang terkadang jadwalnya tidak teratur. Ada banyak cerita tentang penerjemah lepas yang bisa begadang berhari-hari menyelesaikan proyek. Saya sendiri belum pernah seperti itu, sih. Ketika menerima pekerjaan, saya harus tahu kemampuan kerja saya dan mengatur waktu dengan baik agar tidak harus begadang dan mengorbankan kesehatan.

Penerjemah lepas bisa bekerja dari mana saja, cukup bermodalkan laptop dan koneksi internet.

FAKTA. Inilah enaknya menjadi penerjemah lepas. Dengan fleksibilitas waktu yang dimiliki dan kebebasan memilih waktu kerja, penerjemah lepas dapat bekerja dari mana saja. Bisa dari kedai kopi, ruang tamu rumah, di dalam mobil saat dalam perjalanan, di bandara, hingga di tepi pantai. Modalnya pun hanya komputer jinjing atau laptop dan sambungan internet yang stabil. Tapiiiii, kalau tidak didukung dengan niat dan fokus yang kuat, penerjemah lepas malah akan terjebak dalam kegiatan lain yang tidak terkait pekerjaan. Misalnya, belanja daring, mengobrol lewat aplikasi chat, dan berselancar di dunia maya sambil memeriksa kotak masuk surel setiap saat dan notifikasi dari media sosial. Hehehe 😀

Penerjemah lepas mau menerima pekerjaan dengan tarif berapa saja.

MITOS. Setidaknya itu pengalaman saya, ya. Saya tidak pernah ‘pasrah’ menerima semua pekerjaan yang ditawarkan kepada saya tanpa mempertimbangkan besaran tarif yang diajukan. Setidaknya, saya mempertimbangkan pengalaman kerja saya dan keterampilan sebagai penerjemah. Dengan begitu, pekerjaan yang menghampiri saya pun bukan lagi yang sekadar menawarkan ‘best rates; atau tarif terbaik (baca: murah). Selain menghargai diri sendiri, menerima pekerjaan dengan tarif yang wajar juga bagian dari praktik menaati kode etik profesi saya, yang salah satunya adalah bekerja sesuai kemampuan. Dengan tidak menerima tarif yang di bawah standar, saya juga menghargai penerjemah lain dengan tidak merusak harga pasar 😉

Penerjemah lepas hanya bisa bekerja sendiri, tidak dalam tim.

MITOS. Siapa bilang penerjemah lepas hanya bisa bekerja sendiri? Banyak penerjemah lepas yang membentuk tim penerjemah bersama rekan-rekan sejawat mereka untuk menangani proyek-proyek besar. Banyak juga penerjemah lepas yang bekerja bersama penyunting dan tim kreatif untuk perusahaan atau klien tertentu yang dalam proyek penerjemahan kreatif. Salah satu contohnya ya saya sendiri. Keterampilan berinteraksi sosial dan bekerja bersama dalam tim juga sangat diperlukan oleh penerjemah lepas.

Penerjemah lepas tidak punya perencanaan jadwal dan finansial yang matang.

Photo by rawpixel.com on Pexels.com

MITOS. Sekali lagi, ini juga pengalaman saya sendiri sebagai penerjemah. Bagaimana saya bisa bekerja dengan baik, efisien, dan produktif kalau saya tidak bisa mengatur waktu dengan baik pula? Lalu, bagaimana saya bisa bertahan hidup, membayar tagihan, menabung, dan berinvestasi untuk bekal hari tua kalau saya tidak punya perencanaan keuangan yang matang? Kalau itu semua tidak saya lakukan, sudah sejak dulu saya berhenti bekerja sebagai penerjemah lepas dan banting setir ke profesi lain yang pemasukan dan jadwalnya lebih pasti. Hehehe.

Bagaimana menurutmu? Setujukah dengan yang saya sampaikan di atas? Kalau kamu punya pendapat lain, silakan bagikan di bagian komentar. Bila ingin saya membahas lebih lengkap tentang hal-hal di atas, beri tahu saya juga melalui komentar, ya.

Salam sukses!

English-to-Indonesian-certified-translator-and-conference-interpreter-Desi Mandarini

Hi, I’m Desi! I’m an HPI-certified English-Indonesian translator and professional conference interpreter. I’m into books, writing, movies, and learning foreign languages. I write on my blog and a creator of podcast “Being A Translator: A Podcast by Desi Mandarini“. I’m a member of Association of Indonesian Translators (HPI) and Association of Indonesian Conference Interpreters (AICI). Follow me on Instagram, Twitter, Facebook, and LinkedIn.  Questions or comments? Send them via email to hello@desimandarini.com.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.