Jumlah Jam Kerja Ideal Bagi Pekerja Lepas untuk Tetap Produktif

Beberapa hari lalu, saya membaca sebuah artikel di Thrive Global tentang dampak enam jam kerja alih-alih delapan bagi kesehatan dan kesejahteraan para pekerja. Ini terutama diperuntukkan bagi para pekerja kantoran. Artikel tersebut menyebutkan beberapa keuntungan dari menerapkan enam jam kerja saja, yaitu meningkatnya produktivitas kerja, mengurangi stres, memperbaiki kesehatan fisik dan mental, meningkatkan semangat kerja, dan memperbaiki kualitas hubungan dengan rekan sejawat dan keluarga.

Masih menurut artikel itu, ternyata penelitian membuktikan bahwa dari delapan jam kerja setiap hari, pekerja hanya melakukan pekerjaan produktif selama 2 jam 53 menit! Bayangkan betapa banyaknya waktu yang terbuang begitu saja. Kalau kamu tertarik membaca artikel tersebut, kamu bisa melihatnya di sini.

Lalu, bagaimana dengan para pekerja lepas seperti saya? Pekerja lepas biasanya diidentikkan dengan jam kerja yang sangat fleksibel alias bisa bekerja kapan saja, di mana saja, sambil melakukan apa saja 😀

Menurut saya, pekerja lepas bahkan mendapat keuntungan yang lebih dari pekerja tetap dalam hal mengatur waktu dan meningkatkan produktivitas mereka. Mengapa? Pertama, mereka tidak perlu mengikuti jam kantor yang mengikat. Kedua, tidak bergantung pada rekan sejawat lain atau atasan dalam menentukan penyelesaian suatu pekerjaan. Kemudian, yang ketiga adalah mereka bisa menyesuaikan lingkungan kerja sesuai kebutuhan dan keinginan. Pekerja lepas tidak terkungkung dalam kubikel atau dikelilingi suara telepon berdering dan lalu-lalang pekerja lain.

Freelancers-blog post

Nah, dari sudut pandang produktivitas, pekerja lepas sangat lebih beruntung daripada pekerja kantoran. Namun, masih banyak yang mengeluh bahwa mereka kekurangan jam kerja, tidak dapat bekerja secara produktif, bahkan tidak bisa memenuhi tenggat kerja. Wah, ini jangan sampai terjadi, ya. Bisa-bisa kamu kehilangan klien dan reputasi sebagai pekerja lepas yang berkualitas. Lalu, bagaimana sebaiknya mengatur waktu kerja agar tetap produktif?

Kamu bisa mulai dengan memperhatikan jadwal kerjamu selama seminggu atau sebulan yang lalu. Dari sana, kamu akan tahu berapa banyak waktu yang kamu habiskan untuk BENAR-BENAR BEKERJA, yaitu bekerja produktif tanpa diganggu faktor luar seperti menjawab surel dan telepon, mengurus cucian (lah? Hahaha!), memeriksa media sosial, atau kegiatan lain yang tidak terkait pekerjaan. Kamu akan tahu apakah kamu paling produktif di pagi hari, siang hari, atau bahkan malam hari saat semua orang sudah tertidur lelap? Nah, berdasarkan pengamatanmu itu, kamu bisa membuat jadwal kerja yang tentu saja disesuaikan dengan kondisi di rumah dan proyek yang sedang dikerjakan. Meskipun kamu hanya bekerja selama dua jam dalam sehari, misalnya, tidak masalah. Jika kamu bisa menyelesaikan tugas-tugas penting dan semua itu berpengaruh terhadap kelancaran pekerjaannmu, itu sudah cukup dan bisa disebut produktif.

Produktif tidak selalu berarti sibuk, ya. Keduanya adalah kata yang berbeda dan maknanya pun berlainan 😉 Ketika kamu sibuk, bukan selalu berarti kamu produktif. Sedangkan ketika kamu bekerja dengan produktif, bukan berarti kamu harus sibuk mengerjakan beberapa hal sekaligus atau menghabiskan waktu kerja berjam-jam.

KESIMPULAN

  • Jumlah jam kerja tidak selalu berbanding lurus dengan produktivitas.
  • Sibuk tidak selalu berarti produktif, begitu juga sebaliknya.
  • Kamulah yang paling tahu bagaimana meningkatkan produktivitasmu, jadi pastikan kamu mengatur jadwal kerja berdasarkan kondisi luar di sekelilingmu.
  • Tidak ada orang atau alat yang bisa meningkatkan produktivitasmu, kecuali dirimu sendiri. Orang lain atau alat apa pun hanyalah faktor luar yang membantumu menentukan bagaimana kamu bisa bekerja dengan produktif.

Apakah kamu sudah bekerja dengan produktif selama ini? Apa saja hambatan yang kamu temui, dan bagaimana caramu mengatasinya? Silakan berbagi di bagian komentar, ya 🙂

Salam sukses dan tetap produktif!

English-to-Indonesian-certified-translator-and-conference-interpreter-Desi Mandarini

Desi is an HPI-certified English to Indonesian translator and conference interpreter. She’s into books, writing, movies, and learning foreign languages. Desi manages a blog and podcast where she writes and shares about her experience as a linguist as well as tips and tricks on productivity and freelancing. Desi is a member of Association of Indonesian Translators (HPI) and Association of Indonesian Conference Interpreters (AICI). Follow her on Instagram, Twitter, Facebook, and LinkedIn.  Questions or comments? Send email to hello@desimandarini.com.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.