Author: Desi Mandarini
Secuil Cerita dari Pelatihan Penggunaan WordFast – 22 November 2014
Setelah sekian lama tidak berjumpa dengan teman-teman anggota HPI Komda Bali, akhirnya kerinduan terlampiaskan di acara pelatihan yang diadakan oleh HPI Komda Bali tanggal 22 November lalu. Acara ini diadakan untuk berbagi pengetahuan tentang penggunaan CAT (Computer-Aided Translation) Tools dalam membantu pekerjaan penerjemahan, khususnya WordFast (WF). Pelatih kali ini didatangkan jauh-jauh dari Lampung. Beliau adalah [...]
Juru Bahasa untuk Sidang Tertutup
Tulisan ini sudah tersimpan di draft selama sekitar dua minggu, dan hari ini karena pekerjaan menerjemah sedang lowong, jadilah saya buka-buka blog lagi dan ingin sekadar menuliskan pengalaman saya. Oke, daripada ngalor-ngidul mending berbagi sedikit saja pengalaman penjurubahasaan saya bulan lalu. Tanggal 14 Oktober saya mendapat tugas dari tempat kerja paruh waktu saya, IALF, untuk [...]
Pelatihan Penerjemahan Menggunakan CAT Tool Wordfast
HPI Komda Bali kembali akan mengadakan pelatihan seputar peenrjemahan. Kali ini, mengenai penggunaan CAT (Computer Assisted Translation) Tool. CAT Tool yang akan dikupas adalah Wordfast Classic. Pembicaranya adalah Wiwit Tabah Santoso, salah satu penerjemah bersertifikat HPI. Beliau sudah malang melintang dalam dunia penerjemahan selama bertahun-tahun, dan kemampuannya sudah tidak diragukan lagi. Acara pelatihan ini akan [...]
Mook Review: Gone Girl
Memang sedang ingin baca buku ini, dan belum nonton filmnya. Useful review ;).
Gone Girl – Novel by Gillian Flynn
There are some books that seem to blow up all at once. It’s as if suddenly EVERYONE is reading it, EVERYONE is talking about it, and EVERYONE is waiting movie adaptation. These books are thrilling and successful, but are hardly ever very good (think The Da Vinci Code, 50 Shades of Grey), and typically have a great plot with surface level characters. Frankly, these trendy books just don’t have much depth.
Gone Girl, in many ways, falls into the category of the book-of-the-moment. Flynn’s third novel was wildly successful, with readers spanning from teenagers to parents to everyone in-between. It was one of those novels everyone stayed up until 4am reading, just trying to get through one more chapter, and couldn’t wait to gush about to their peers. But Flynn’s characters were complex. As a reader, I developed emotions towards them: distrust…
View original post 483 more words